Kategori
Science Chemistry

Teori Sains yang Dikoreksi oleh Teori Sains Lain

Teori Sains yang Dikoreksi oleh Teori Sains Lain

Teori Sains yang Dikoreksi oleh Teori Sains Lain, – Teori sains adalah sebuah gagasan atau hipotesa ilmiah yang telah mengalami pengujian berulang kali dan hasilnya nyaris selalu sama.

Sebelum sebuah gagasan dinaikkan sebagai teori, maka gagasan tersebut harus dimulai dari penelitian, uji coba, studi, pembentukan model, hingga hipotesis.

Nah, kira-kira teori sains apa saja ya, yang pernah dikoreksi oleh teori sains yang lebih baru? Mengapa teori yang baru bisa menggantikannya? Yuk, disimak!

1. lobotomi

Dalam dunia kedokteran, teori lobotomi merupakan salah satu teori yang mungkin sangat dikenal, terutama dalam bidang penyembuhan penyakit otak. Mulai dari ayan, gangguan jiwa, dan halusinasi, dulunya diobati dengan cara lobotomi.

Dicatat dalam Live Science, teori lobotomi dikemukakan oleh seorang dokter asal Swiss pada 1880 silam. Dokter bernama Gottlieb Burkhardt tersebut menilai bahwa gangguan jiwa dan halusinasi dapat diobati dengan cara melubangi kepala pasien.

Praktik ini masih dilakukan di dunia medis hingga 1950-an, di saat para ilmuwan menemukan teori baru tentang pengobatan kejiwaan melalui metode obat antidepresan dan psikotropika.

Hingga kasus lobotomi dihentikan, sedikitnya ada sekitar 50.000 praktik lobotomi dilakukan di Amerika Serikat. Bagi kebanyakan pasien, lobotomi justru membawa dampak yang lebih buruk, yakni menurunnya kemampuan pasien dalam melakukan sesuatu.

2. Teori fisi

Bagaimana asal mula Bulan terbentuk? Pada era 1800-an sebuah teori tentang pembentukan Bulan pernah digagas oleh George Darwin. Teori yang dinamakan teori fisi ini menyatakan bahwa Bulan terbentuk akibat hempasan dari planet Bumi.

Hempasan tersebut terjadi karena Bumi pada saat itu berputar sangat cepat dan melontarkan bagian besarnya ke luar Bumi, yang akhirnya menjadi Bulan. Namun, teori ini memiliki banyak kelemahan.

Bagaimana pun, unsur-unsur Bulan jelas sangat berbeda dengan unsur Bumi. Bukti tersebut diperkuat pada 1969 silam saat Neil Armstrong membawa beberapa batuan dan tanah Bulan ke Bumi untuk diteliti.

Kini, teori yang lebih baru digagas untuk mengungkap bagaimana Bulan terbentuk di masa purba. Laman Space mencatat bahwa teori tubrukan besar lebih masuk akal dan dapat di teliti jejak-jejaknya.

Pembentukan Bulan di masa purba juga terjadi hampir bersamaan dengan pembentukan Bumi. Akibat tubrukan besar tersebut, unsur-unsur Bulan menjadi tidak sama dengan unsur planet Bumi.

Namun, apakah kejadian tersebut melibatkan bagian Mars atau Venus, itu yang masih diteliti oleh para ilmuwan.

3. Teori sekelas Newton

Bukan berarti teori Newton salah, lho. Hanya saja, Einstein tidak sependapat dengan Newton berkaitan dengan konsep ruang dan waktu. Di sini, teori Einstein justru menggenapi teori-teori sebelumnya, salah satunya teori milik Newton.

Secara sederhana, Einstein menganggap bahwa alam semesta itu dinamis, karena adanya ruang dan waktu yang dinamis dan relatif. Sedangkan Newton menganggap bahwa ruang dan waktu itu bersifat statis.

Bisa dibilang gagasan Newton mengenai gravitasi juga digunakan oleh Einstein dalam mengembangkan gagasannya mengenai ruang dan waktu. Hanya saja, teori Einstein dapat menjabarkan konsep-konsep tertentu dengan sangat detail.

Teori relativitas Einstein juga menjadi dasar bagi pengembangan teori selanjutnya, yang digunakan oleh ilmuwan modern lain, semisal Stephen Hawking.

Relativitas inilah yang menjabarkan tentang mekanika kuantum, distorsi ruang waktu, kecepatan cahaya, hingga konsep perjalanan waktu.

4. Teori geosentris

Teori geosentris adalah sebuah gagasan teori yang menyatakan bahwa Bumi merupakan pusat alam semesta. Teori ini digagas oleh seorang astronom asal Yunani bernama Claudius Ptolemaeus dan Aristoteles.

Bukan hanya seorang astronom, Claudius juga seorang ahli fisika dan matematika yang cukup disegani pada zamannya. Begitu juga dengan Aristoteles, di mana ia adalah seorang filsuf besar Yunani dan murid dari Plato.

Namun, sains tentunya sangat terbuka dengan segala macam pembaharuan. Teori geosentris atau geosentrisme tidak lagi digunakan sebagai pijakan sains setelah muncul teori baru yang lebih valid, yakni teori heliosentris.

Meskipun jarak waktu di antara kedua teori tersebut cukup jauh, nyatanya memang dibutuhkan waktu lama untuk menganalisa bagaimana konsep tentang Tata Surya itu. Terlebih pada saat itu belum ada teknologi canggih seperti saat ini.

Universe Today dalam lamannya menyebutkan bahwa teori heliosentris yang dikemukakan oleh Nicolaus Copernicus tersebut, telah mengubah pandangan sains secara masif. Pada abad ke-16, di mana sains mulai memainkan peranan penting, teknologi masih jauh dari kata canggih.

Namun, terbukti hingga kini, bahwa Bumi memang bukanlah pusat dari Tata Surya. Faktanya, Bumi hanyalah planet yang sama dengan planet-planet lainnya yang mengelilingi Matahari sebagai bintang terbesar di Tata Surya.

5. Teori big bang

Pada era 1700-an Immanuel Kant dan Piere Simon de Laplace pernah menggagas sebuah teori tentang pembentukan alam semesta, yakni teori kabut nebula.

Teori ini menyatakan bahwa alam semesta terbentuk dari sebuah kabut nebula yang sangat panas dan akhirnya dapat membentuk objek-objek angkasa.

Namun, teori ini masih memiliki banyak celah dan mengundang banyak perdebatan yang tak terjawab. Salah satu hal yang tidak dijelaskan dengan detail dalam teori ini adalah bagaimana gaya gravitasi dapat memengaruhi pembentukan kabut nebula tersebut.

Pada zaman yang lebih modern, yakni pada 1927, muncul teori baru tentang pembentukan alam semesta. Teori ini digagas oleh seorang pastor dan astronom Belgia bernama Georges Lemaitre.

Ia mengungkap bahwa alam semesta terbentuk akibat sebuah ledakan yang dahsyat, di mana ledakan hebat tersebut melontarkan partikel-partikel pembentuk alam semesta.

Teori yang dinamakan big bang atau ledakan dahsyat ini masih menjadi teori valid yang saat ini digunakan sebagai pijakan sains. Bahkan NASA telah mengonfirmasi bahwa alam semesta telah mengembang sebagai bukti terjadinya big bang di masa lalu, yakni sekitar 13,8 miliar tahun lalu.