Kategori
Sains

Planet Kerdil yang Tinggal di Tata Surya

Planet Kerdil yang Tinggal di Tata Surya

Planet Kerdil yang Tinggal di Tata Surya, – Planet kerdil selain Pluto memang benar-benar ada. Hal ini memang sudah diteliti sejak dulu. Ternyata beberapa planet kerdil tersebut berada di kawasan tata surya Bima Sakti. Penemuan ini pun tidak hanya berjumlah satu, kurang lebih ada 5 planet.

Tapi Anda tenang aja, meski sudah turun pangkat, Pluto enggak akan pernah kesepian kok! Selain Pluto, Tata Surya kita juga memiliki beberapa benda langit yang juga dikategorikan sebagai planet kerdil, apa aja?

1. Ceres

Dikutip http://poker88asia.info, Kebanyakan dari kita mungkin mengenal Ceres sebagai asteroid di Tata Surya. Tapi tahukah Anda , kalau Ceres juga memiliki pangkat dobel sebagai planet kerdil? Dibandingkan dengan Pluto yang berada jauh dibelakang, Ceres merupakan planet kerdil terdekat dari Bumi.

Ceres sendiri tinggal di sabuk asteroid yang ada diantara Mars dan Jupiter yang hanya berjarak sekitar 414 juta km dari matahari. Dan berbeda dari tetangga asteroid lainnya, Ceres memiliki bentuk hampir bulat layaknya planet. Namun untuk ukuran, Ceres hanya memiliki diameter 950 km dan massa 0,015 persen dari massa Bumi.

Karena ukurannya itu, para ahli kemudian sepakat menjadikan Ceres sebagai planet kerdil untuk menemani Pluto.

2. Eris

Kalau ada yang bertanya, siapa biang kerok dalam penurunan pangkat Pluto, maka Eris adalah jawabannya. Eris ditemukan pada tahun 2005, dan memiliki ukuran sekitar 2.300 sampai 2.400 km atau 27 persen lebih besar dari Pluto. Bukan hanya itu, Eris juga memiliki satelit alami yang bernama Dysmonia.

Dengan penemuan ini, para astronom terpaksa memilih satu di antara dua pilihan. Pertama menjadikan Eris sebagai planet kesepuluh, dan yang kedua meninjau ulang status Pluto. Pada akhirnya, para astronom lebih memilih mengorbankan Pluto dengan menjadikannya planet kerdil bersama Eris.

Pilihan ini diambil karena planet kerdil Eris memiliki orbit yang tidak menentu. Orbit Eris memang lebih besar dari Pluto, bahkan Eris membutuhkan 557 tahun untuk memutari matahari. Tapi di sisi lain, orbitnya juga memotong orbit Pluto bahkan Neptunus.

3. Pluto

Seperti yang Anda tahu, Pluto ditemukan oleh seorang gadis berusia 11 tahun, bernama Venetia Burney tahun 1930. Awalnya Pluto merupakan planet, tapi pada Agustus 2006, statusnya diturunkan jadi planet kerdil. Meski statusnya sudah turun, tapi jangan salah, Pluto juga memiliki satelit yang mengitarinya.

Bukan satu, melainkan lima satelit yaitu Charon, Nix, Hydra, Styx, dan Kerberos. Dengan diameter sekitar 2.370 km dan jarak 5,9 miliar km, dulu Pluto merupakan planet terkecil dan terjauh dari matahari. Saking jauhnya, cahaya matahari bahkan membutuhkan waktu 5,5 jam untuk bisa sampai ke Pluto.

4. Makemake

Ceres bukan satu-satunya planet kerdil yang tinggal di sabuk Kuiper. Selain Ceres, planet kerdil Makemake juga tinggal di perbatasan Jupiter dan Mars. Makemake pertama kali ditemukan pada 31 Maret 2005 lalu. Yang unik dari planet kerdil satu ini adalah namanya.

Beda dengan kebiasaan para astronom yang menggunakan nama para dewa Romawi atau Yunani Kuno, nama Makemake sendiri diambil dari nama dewa kesuburan dalam kepercayaan suku Rapa Nui yang merupakan suku asli pulau Paskah.

Faktanya, Makemake memang ditemukan beberapa hari setelah Paskah yang membuatnya cocok dengan nama tersebut.

5. Haumea

Setelah Ceres, Eris, Pluto, dan Makemake, kita juga memiliki Haumea yang menjadi planet kerdil kelima sekaligus planet kerdil terakhir di Tata Surya. Haumea pertama kali ditemukan tahun 2003 lalu di sabuk Kuiper bersama dengan dua satelit alaminya, namun statusnya sebagai planet kerdil baru diresmikan pada tahun 2008 lalu.

Berbeda dengan planet kerdil lain di Tata Surya, Haumea tidak berbentuk bulat atau hampir bulat seperti Ceres. Alih-alih bulat, planet kerdil ini memiliki bentuk seperti cerutu. Selain itu Haumea juga merupakan salah satu benda langit besar yang berputar paling cepat di Tata Surya kita.

Tata Surya kita bukan hanya dihuni oleh matahari dan planet-planet besar, melainkan juga benda langit lainnya, termasuk planet kerdil. Planet kerdil sendiri adalah benda langit yang berputar mengelilingi matahari, memiliki gravitasinya sendiri, namun bukan satelit dari planet lain.

Kategori
Sains

Satelit Pertama Penjelajah Ruang Angkasa!

Satelit Pertama Penjelajah Ruang Angkasa!

Satelit Pertama Penjelajah Ruang Angkasa! – Teknologi yang diciptakan tersebut adalah alat yang mampu menjelajahi ruang angkasa bernama satelit. Uni Sovietlah sang pemula pencapaian teknologi ini.

Amerika Serikat akhirnya dapat menyusul kesuksesan yang dicapai oleh Uni Soviet. Pada 1958, tepatnya 31 Januari, satelit pertama Amerika Serikat diluncurkan ke ruang angkasa bernama Explorer.

Lantas, apa yang sebenarnya yang bisa dilakukan oleh Sputnik 1?

1. Sputnik 1 adalah satelit sederhana, tapi menjadi tonggak sejarah

Dikutip http://ratutogel.com, Satelit Sputnik 1 adalah dua belahan logam seperti “mangkok” setebal dua milimeter yang ditangkupkan. Agar rapat, digunakan baut sebanyak 36 untuk menyatukan dua belahan “mangkok” itu.

Karenanya, bentuk satelit Sputnik 1 berbentuk bola. Menurut Mike Wall dari laman Space, diameternya hanya 58 sentimeter dan beratnya hanya 83,6 kilogram.

Satelit berbentuk bola itu dilengkapi dengan antena yang nantinya digunakan untuk memancarkan sinyal radio yang dapat ditangkap di Bumi.

Ia lewat di atas langit Amerika Utara beberapa kali dalam sehari. Warga di Amerika yang memiliki perangkat khusus penangkap sinyal radio, bahkan yang amatir sekalipun, mampu mendengar sinyal yang dikirimkan oleh Sputnik.

2. Sinyal yang dikirimkan oleh Sputnik 1

Sputnik terbang dan sampai di Orbit Bumi rendah. Kecepatan satelit tersebut dalam mengorbit adalah 29 ribu kilometer per jam. Sputnik 1 membutuhkan waktu sekitar 96,2 menit untuk setiap orbit.

Di dalam satelit berbentuk bola itu, ada radio transmiter yang sinyalnya ditransmisikan pada 20.005 dan 40.002 MHz melalui antena yang dipasang di luar. Semua operator radio seluruh dunia bisa memantau sinyal yang dipancarkan oleh Sputnik.

Suara dari sinyal yang dipancarkan itu terdengar seperti, “Bip … bip … bip.” Rekaman suara satelit tersebut bisa didengarkan di laman Wikipedia yang dikemas dalam format .ogg.

Baterai perak dan seng yang ada dalam satelit Sputnik mampu membuatnya mengorbit dan mengirim sinyal selama 22 hari.

Ketika baterai pemancar habis, pada 26 Oktober 1957, operator di bumi kehilangan kontak. Pada awal Januari 1958, satelit itu jatuh ke bumi dan terbakar ketika melewati atmosfer.

3. Sputnik 1 diluncurkan dengan roket yang bernama R-7 Semyorka

Meskipun terkesan sederhana, satelit Sputnik 1 membuat sebagian masyarakat Amerika ketakutan. Mereka menganggap jika bisa menerbangkan satelit, berarti Uni Soviet juga bisa membuat sebuah roket antarbenua.

Anatoly Zak menulis pada laman Popular Mechanics bahwa Sputnik bukanlah objek utama yang difokuskan oleh pemerintah Uni Soviet, tetapi roket atau misil balistik yang digunakan untuk membawa roket tersebutlah yang paling penting.

Roket yang dibuat untuk membawa Sputnik 1 adalah R-7 Semyorka yang dirancang oleh Sergei Korolev. Roket pembawa satelit, yang juga bisa berfungsi sebagai misil balistik antarbenua tersebut, menjadi tonggak dasar perkembangan roket atau misil selanjutnya bagi Uni Soviet.

4. Suksesnya Uni Soviet menciptakan Krisis Sputnik

Masyarakat Barat memasuki masa-masa kecemasan dan ketakutan dengan keberhasilan yang dicapai oleh kecanggihan teknologi Uni Soviet.

Bahkan, suara, “Bip … bip … bip,” ketika terdengar di langit Amerika, pernah disiarkan radio NBC ke publik dengan penuh kekaguman.

Masyarakat Barat ketakutan dan cemas jika roket atau misil pembawa satelit bisa juga membawa hulu ledak nuklir yang bisa diluncurkan dari Eropa Timur ke Amerika Utara.

Presiden Amerika Serikat yang saat itu dijabat oleh Eisenhower masih memegang prinsip “kebebasan luar angkasa”, yakni gagasan bahwa luar angkasa adalah milik semua negara.

Namun di balik itu, sebenarnya Eisenhower dan belasan orang para peneliti dari intelijen, angkatan udara dan kontraktor terpercaya sedang membuat satelit mata-mata. Saking sangat rahasianya, yang mengetahui hal tersebut hanya beberapa orang saja.

Satelit mata-mata yang dikembangkan itu bernama CORONA dan tujuannya adalah untuk melakukan pengintaian dan mengirim informasi lokasi setiap roket atau misil milik Uni Soviet berada.

5. Satelit Sputnik menjadi titik awal perlombaan antariksa

Empat bulan setelah Uni Soviet sukses meluncurkan Sputnik, Amerika kemudian menyusul dengan menciptakan teknologi tandingan berupa satelit bernama Explorer. Satelit Explorer meluncur ke luar angkasa pada 31 Januari 1958.

Pada 6 Desember 1958, para ilmuwan dan teknisi Amerika Serikat melakukan pengebutan pengerjaan roket. Mulai pada saat itu, semua stasiun televisi dan radio di seluruh Amerika Serikat menyiarkan roket yang dikembangkan bernama Vanguard, yang akan membawa satelit Amerika ke antariksa.

Roket itu kemudian membawa satelit Explorer ke antariksa. Menurut laman Space, satelit Explorer milik Amerika Serikat mampu bertahan mengirim sinyal ke bumi selama empat bulan.

Explorer kehilangan kontak dengan bumi pada 23 Mei 1958 karena kehabisan baterai. Meskipun satelit tersebut kehabisan baterai, namun masih tetap bertahan di luar angkasa dan baru jatuh ke bumi pada 31 Maret 1970.

Pada 63 tahun lalu, sejak pertama kali Uni Soviet meluncurkan satelit, Space Race atau perlombaan antariksa antara Uni Soviet dan Amerika Serikat dimulai.

Negara-negara di dunia kemudian mulai mengenal dan mengembangkan misil untuk mengantarkan satelitnya masing-masing. Teknologi untuk menembus antariksa masih dianggap sebagai teknologi paling canggih dengan biaya yang sangat mahal.

Semoga saja dalam tahun-tahun mendatang, Indonesia juga bakal bisa memiliki roket sendiri untuk menerbangkan satelit buatan sendiri. Dengan begitu, Indonesia tidak perlu menumpang roket orang lain untuk mengantarkan satelitnya.

Kategori
Sains

Tahap Reaksi Tubuh saat di Luar Angkasa

Tahap Reaksi Tubuh saat di Luar Angkasa

Tahap Reaksi Tubuh saat di Luar Angkasa, – Dalam film Guardians of the Galaxy, karakter Chris Pratt, Star-Lord, ditunjukkan mampu bertahan hidup selama beberapa saat di luar angkasa tanpa baju astronot.

Hal serupa juga muncul dalam sekuel film tersebut yang menunjukkan salah satu karakter sempat membawa Star-Lord ke luar angkasa tanpa baju astronot sebelum mati.

Dilansir dari laman http://dotdotdot.me, Rupanya kenyataan tidak semanis apa yang kamu saksikan di film-film. Luar angkasa adalah tempat asing yang sangat berbahaya untuk manusia. Kamu tidak bisa hidup tanpa baju astronaut.

Lalu bagaimana jika tubuh kita terekspos tanpa baju khusus tersebut? Berikut ini reaksi tubuh yang akan kamu alami.

1. Suhu di luar angkasa sangat dingin

Ketika tubuhmu terekspos ruang hampa, yang pertama kali kamu rasakan adalah hawa dingin yang menusuk. Suhu tersebut bukanlah hal yang akan membunuhmu. Sebagai gantinya, panas akan keluar dari tubuhmu. Ini akan memengaruhi mata, paru-paru, dan mulutmu. Air di dalam tubuh akan menguap dengan cepat dan membuatmu kedinginan.

2. Kamu akan mengidap kanker kulit secara instan

Sinar ultraviolet dari matahari berkontribusi besar dalam memicu kanker kulit. Namun di Bumi masih ada lapisan ozon yang melindungi kita sehingga efeknya dapat diminimalisasi. Lalu apa yang terjadi jika tubuh tidak terlindungi di luar angkasa? Kulitmu akan terbakar secara cepat sehingga kanker kulit pun menjalar hanya dalam hitungan detik.

3. Mata akan buta saat melihat matahari

Melihat matahari dari Bumi saja sudah membuat mata silau, apalagi jika kamu berada di luar angkasa. Matahari bisa menyebabkan kerusakan mata jika kita menatapnya secara langsung selama satu setengah menit dari Bumi. Sedangkan di luar angkasa, matahari hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja untuk membutakan mata.

4. Kamu akan mengembang

Setelah tiga hal sebelumnya, keadaan akan bertambah buruk. Tubuhmu akan mengembang karena mengalami ebullism. Bagaimana caranya? Darah kita mengandung nitrogen. Gas tersebut akan berubah menjadi gelembung yang sangat banyak. Tubuhmu akan benar-benar mengembang sebagai hasilnya.

5. Otak akan berhenti dalam 15 detik

Otakmu akan mengalami kerusakan yang parah akibat tekanan udara yang berbeda di ruang hampa. Semua oksigen yang tersimpan di dalam otak akan habis sehingga kamu akan kehilangan kesadaran. Proses ini terjadi hanya dalam 15 detik.

6. Paru-parumu kemungkinan akan pecah

Seolah berhentinya otak belum cukup untuk membuatmu menderita, kamu akan kehilangan udara di dalam paru-paru secara perlahan. Ini terjadi karena tekanan atmosferik dalam paru-paru yang kuat. Cukup kuat untuk membuatnya pecah.

7. Oksigen di dalam pembuluh darah juga habis

Tidak adanya oksigen untuk bernapas akan membuat semua persediaan udara tersebut keluar dari dalam pembuluh darah. Proses ini disebut juga dengan hypoxia. Akibatnya, organ dalammu akan mengalami kerusakan juga.

8. Darah akan mendidih

Hingga tahap ini kamu baru melewati satu setengah menit terekspos di ruang hampa. Apa lagi yang akan terjadi selanjutnya? Tahap selanjutnya adalah darahmu akan mendidih. Namun jangan membayangkan mendidih seperti air yang dimasak ya.

Ini terjadi karena tekanan dari luar tubuhmu turun secara drastis, sehingga kamu memerlukan panas untuk menjaga aliran darah tetap berjalan. Sayangnya usaha tersebut malah membuat darahmu menguap menjadi gas.

Gimana, sangat menyeramkan kan? Semua proses tersebut terjadi kurang dari dua menit. Tentunya tidak ada manusia yang bisa selamat ketika berada di ruang hampa tanpa perlindungan apapun.

Kategori
Sains

Ledakan Besar yang Terjadi di Luar Angkasa

Ledakan Besar yang Terjadi di Luar Angkasa

Ledakan Besar yang Terjadi di Luar Angkasa, – Para peneliti di International Centre for Radio Astronomy Research telah menemukan ledakan terbesar yang pernah diamati di alam semesta sejak Big Bang.

Dirangkum dari laman Daftar Joker123, Di zaman modern ini, ada beberapa ledakan hebat di alam semesta yang masih sanggup dideteksi oleh teknologi manusia dari Bumi. Yuk, kita selidiki seperti apa ledakan-ledakan di luar angkasa tersebut.

1. Ledakan di Bulan

x 1 e8e10bd055025af76d0b0a72dabd4af9 - Ledakan Besar yang Terjadi di Luar AngkasaBulan adalah satelit alam milik Bumi yang ternyata sering mendapatkan hantaman dari berbagai macam batuan luar angkasa. Biasanya, batuan angkasa yang menabrak Bulan berukuran kecil.

Namun, dalam beberapa kasus, Bulan juga mengalami tabrakan dan sampai mengakibatkan ledakan yang pada akhirnya menciptakan kawah berukuran besar.

2. Ledakan pada Nebula Kepiting

z 2 03e7e868021aa64e62c69998a57d2ed9 - Ledakan Besar yang Terjadi di Luar AngkasaAda sebuah nebula yang terletak 6.500 tahun cahaya dari Bumi bernama Nebula Kepiting. Dinamakan “Kepiting” karena nebula tersebut sepintas mirip dengan cangkang kepiting yang terbalik.

Pencitraan tersebut muncul karena pengamatan dilakukan dengan teleskop dari Bumi dan banyak pengamat yang menamakan demikian. Namun, sejatinya Nebula Kepiting adalah kumpulan gas dan puing-puing bekas ledakan bintang yang sangat masif.

3. Ledakan di sekitar atmosfer Bumi

z 1 a139d5a253b7428556c0a87f81aabe44 - Ledakan Besar yang Terjadi di Luar AngkasaPada 2013 lalu, Bumi pernah mengalami ledakan cukup kuat yang terjadi di sekitar atmosfer, seperti ditulis dalam Scientific American.

Ledakan tersebut terjadi 25 kilometer di atas permukaan laut. Ledakan udara ini terjadi akibat hantaman meteor yang meluncur cepat di wilayah udara Chelyabinsk, Rusia.

4. Ledakan sinar gama

z cover 8f3570b84154537ae9e1cb4c36c1f510 - Ledakan Besar yang Terjadi di Luar AngkasaLedakan sinar gama atau gamma juga pernah terjadi secara masif di luar angkasa. Laman Space mencatat bahwa ledakan gama merupakan salah satu jenis ledakan angkasa yang sangat besar.

Radiasinya diyakini mampu menghancurkan objek-objek angkasa yang ada dalam radius ledakan tersebut.

5. Ledakan nova

z 5 30742c8c5e49357e3be08e1836bc5e05 - Ledakan Besar yang Terjadi di Luar AngkasaPada 2018, beberapa ilmuwan NASA juga mendeteksi adanya ledakan hebat yang dinamakan ledakan nova. Ledakan ini mampu menghasilkan 100 ribu kali lipat kekuatan energi Matahari yang dirasakan oleh Bumi.

Ledakan nova tersebut dideteksi dari sebuah zona berjarak 13 ribu tahun cahaya di konstelasi Carina.

Uniknya, ledakan nova cukup sering dijumpai dan dapat dideteksi dengan baik menggunakan teleskop luar angkasa. Ledakan nova berasal dari sistem bintang yang tidak stabil dan pada saatnya akan mengeluarkan hidrogen secara masif.

***

Itulah beberapa ledakan hebat yang terjadi di luar angkasa dan masih dapat diamati di zaman modern saat ini. Gak kebayang kalau ledakan superhebat terjadi di tata surya kita, pastinya planet-planet di sekitarnya bakal hancur!

Kategori
Sains

Alasan Sains Mengapa Pluto Tidak Lagi Dianggap Planet

Alasan Sains Mengapa Pluto Tidak Lagi Dianggap Planet

Alasan Sains Mengapa Pluto Tidak Lagi Dianggap Planet – Mungkin kamu tahu bahwa Pluto dulunya sempat dianggap sebagai salah satu planet di tata surya kita. Namun, saat ini Pluto tidak lagi dianggap planet karena beberapa alasan. Faktanya, status Pluto yang awalnya dianggap planet dapat diturunkan menjadi objek luar angkasa lainnya.

The International Astronomical Union telah menurunkan status Pluto menjadi nonplanet pada 2006 lalu, seperti dicatat dalam laman Library of Congress. Sejak saat itu, oleh ilmuwan, Pluto dinamakan dwarf planet atau planet kerdil (planet katai).

1. Pluto tidak dapat membersihkan lingkungan di sekitar orbitnya

Salah satu alasan mengapa Pluto tidak lagi dianggap planet karena Pluto tidak memiliki sifat “pembersih” yang dihasilkan dari orbitnya. Selain harus berbentuk bulat dan mengorbit pada bintang terbesar, planet harus dapat membersihkan lingkungan di sekitar orbit yang ia lalui.

Apa maksudnya “membersihkan lingkungan” pada orbit planet? Begini, kamu bisa membayangkan sebuah planet yang terus bergerak mengelilingi Matahari. Nah, dalam setiap orbit planet-planet tersebut, seharusnya kekuatan gravitasi planet itu akan membersihkan segala macam benda atau objek yang ada dalam lintasan orbit planet tersebut.

Melansir dari Sbobet Casino Syarat mutlak tersebut dinamakan “dominasi orbital”, yakni sebuah kriteria khusus yang harus ada pada setiap planet di tata surya kita. Dengan dominasi orbital tadi, sebuah planet dapat menjadi objek angkasa dengan gravitasi dominan dalam jalur orbitnya sendiri. Tidak boleh ada objek lainnya di sekitar planet, kecuali satelit alam atau bulan.

2. Jarak Pluto terhadap Matahari terlalu jauh

Sejak 1930 hingga 2006, Pluto masih dianggap planet meskipun lokasinya sangat jauh dari Matahari. Namun, penelitian yang dilakukan pada 2005 dan 2006 lalu membuktikan bahwa jarak antara sebuah objek angkasa terhadap bintang terbesarnya rupanya akan memengaruhi kondisi dari objek itu sendiri.

NASA dalam lamannya menjelaskan bahwa jarak antara Pluto dan Matahari adalah sebesar 39,5 unit astronomi (AU) dan itu sekitar 40 kali lebih jauh dibandingkan jarak Bumi dan Matahari. Jika dikonversi dalam kilometer akan menghasilkan angka sebesar 6 miliar kilometer.

Jarak jauh tersebut sangat berpengaruh pada model dan gerak orbital Pluto. Bahkan, saking jauhnya, Pluto memiliki jenis orbital elips yang sangat renggang. Para ahli, meskipun tidak semuanya, telah sepakat bahwa Neptunus adalah planet terjauh di tata surya kita. Dulunya, rekor ini dipegang oleh Pluto sebagai planet kesembilan.

3. Ukuran Pluto terlalu kecil untuk dianggap sebagai sebuah planet

Terlepas dari keadaan orbitnya yang aneh, Pluto memang sudah selayaknya tidak disebut sebagai planet. Pasalnya, ukuran Pluto sangat kecil dan timpang jika dibandingkan dengan planet-planet lainnya. Oke, memang ukuran Pluto tidak kecil-kecil amat, namun jika kamu belajar mengenai astronomi, kamu akan tahu bahwa ukuran Pluto memang tidak sebanding dengan planet normal lainnya.

Bahkan, Pluto memiliki ukuran yang lebih kecil ketimbang Bulan. Ya, dicatat dalam Universe Today, diameter Pluto hanya mencapai 2.390 km dan itu adalah ukuran dari 70 persen Bulan atau 18 persen ukuran Bumi. Persoalan ukuran sebuah objek angkasa memang sempat menjadi perdebatan ilmiah di antara kalangan akademisi.

4. Pembentukan awal Pluto yang berbeda dengan pembentukan planet pada umumnya

Pluto memang berbentuk bulat dan bergerak mengelilingi Matahari. Namun, kedua hal itu belum cukup untuk mengukuhkan Pluto menjadi sebuah planet dalam tata surya kita. Kemungkinan besar, pada zaman dulu, pembentukan Pluto tidaklah sama dengan pembentukan awal-awal planet di tata surya kita, seperti diulas dalam laman Space.

Sekitar 4,6 miliar tahun lalu, tata surya hanyalah kumpulan gas dan awan debu yang dikenal sebagai nebula. Gaya gravitasi yang cukup masif meruntuhkan dan melekatkan objek-objek angkasa menjadi sebuah bintang besar di tengah nebula bernama Matahari. Nah, dengan adanya Matahari, partikel lainnya juga mulai berkumpul dan berputar membentuk bulatan objek angkasa lainnya.

5. Kekuatan gravitasi Pluto tidak cukup kuat untuk disamakan dengan gravitasi minimal dari sebuah planet

Delapan planet yang ada di tata surya kita merupakan objek luar angkasa yang memiliki kekuatan gravitasi yang cukup untuk dianggap planet. Ya, gravitasi merupakan salah satu syarat mutlak atau tolok ukur bagi sebuah klasifikasi objek di alam semesta. Gravitasi besar biasanya dimiliki oleh bintang dan lubang hitam atau black hole.

Planet dengan massa yang lebih kecil akan memiliki gravitasi yang jauh lebih kecil dibandingkan dengan kekuatan gravitasi pada bintang dan lubang hitam. Namun, khusus untuk Pluto, kekuatan gravitasinya memang tidak cukup untuk disejajarkan dengan kekuatan gravitasi minimal sebuah planet secara umum.

NASA mencatat bahwa kekuatan gravitasi Pluto hanya satu per lima belas dibandingkan dengan kekuatan gravitasi Bumi. Jadi, jika berat badan kita di Bumi 75 kg, di Pluto berat badan kita menjadi 5 kg. Kecilnya kekuatan gravitasi Pluto memang tidak memungkinkan baginya untuk dianggap planet.

Kategori
Science Chemistry

5 Misi Eksplorasi Mars dari Berbagai Negara

5 Misi Eksplorasi Mars dari Berbagai Negara

5 Misi Eksplorasi Mars dari Berbagai Negara – Planet Mars menjadi sebuah tujuan selanjutnya dari banyak ilmuwan antariksa di berbagai negara. Beberapa puluh tahun yang lalu, Bulan sudah lebih dulu menjadi sebuah objek angkasa yang sering dikunjungi oleh astronaut dan wahana antariksa.

Beberapa waktu lalu, NASA juga sempat mengirimkan robot ke Planet Mars. Namun, pengiriman manusia masih belum bisa dilakukan karena beberapa alasan.

Rupanya, Mars telah menjadi sebuah planet yang memiliki magnet bagi banyak negara. Bukan hanya NASA, beberapa badan antariksa dari negara lain saling berlomba untuk menuju ke Planet Merah tersebut.

Inilah beberapa misi eksplorasi Mars yang akan dilakukan oleh beberapa negara di dunia. Apa saja?

1. NASA yang akan kembali mengirimkan robot ke Mars pada 2020

NASA kembali akan mengirimkan robot penjelajah ke Mars pada Juli 2020, seperti diberitakan dalam laman resminya. NASA memang merupakan badan antariksa yang sangat berambisi untuk melakukan eksplorasi di Planet Mars.

Bahkan, beberapa tahun silam, NASA juga berhasil mengirimkan robot pertamanya ke Mars sebelum dinyatakan hilang kontak pada 2018 lalu.

Kini, NASA kembali akan mengirimkan robot berupa rover yang lebih canggih dari sebelumnya. Bukan hanya mencari data-data spesifik mengenai kondisi Planet Mars, misi ini juga akan melacak jejak-jejak kehidupan organisme jika memang ada.

Misi ini diharapkan menjadi sebuah loncatan besar bagi NASA sebelum mereka mengirimkan manusia pada 2030 mendatang.

Robot yang akan dikirimkan kali ini berbeda dengan rover NASA di masa lalu. Robot ini akan dilengkapi dengan bor khusus yang akan menggali permukaan Mars hingga kedalaman tertentu.

Hasil dari temuan tersebut tentu saja akan dibawa kembali ke Bumi untuk dijadikan bahan penelitian dan studi bagi banyak ilmuwan.

2. Tiongkok akan menjadi pesaing terberat NASA dalam eksplorasi Mars

Laman sains Science Mag mencatat bahwa Tiongkok memiliki beberapa misi luar angkasa bernama Tianwen-1. Misi ini telah menjadi proyek yang ambisius bagi pemerintah Tiongkok.

Akhir-akhir ini, Tiongkok memang terkesan sangat berambisi untuk mengejar Amerika Serikat dalam hal sains dan kecanggihan wahana luar angkasa.

Tak mau kalah dengan NASA, Tiongkok akan mengirimkan misi manusia ke Planet Mars pada 2030 mendatang. Sebelumnya, Tiongkok akan mengirimkan misi Tianwen-1 ke Mars yang rencananya akan dilakukan mulai 2020 ini.

Ilmuwan Tiongkok memiliki target bahwa sebelum 2030 seluruh sampel tanah dan batuan Mars harus sudah dibawa kembali ke Bumi.

3. Uni Emirat Arab juga akan mengirimkan misi ke Mars pada 2020

Uni Emirat Arab juga tak mau ketinggalan untuk melakukan eksplorasi ke Planet Mars pada 2020 ini.

Seperti dicatat dalam BBC News, ilmuwan Uni Emirat Arab telah banyak dibimbing oleh ilmuwan senior Amerika dan Eropa sehingga mereka cukup percaya diri dalam melakukan eksplorasi yang memakan banyak biaya ini.

Mereka berharap pada tantangan sains kali ini. Dengan misi besar tersebut, mereka dapat mengenal Mars lebih dekat. Secara khusus, misi ini juga akan mencari tahu mengapa Planet Merah tersebut kehilangan air secara masif di masa lalu.

Jika tak ada kendala, wahana antariksa tersebut akan diluncurkan pada 2020 dan rencananya akan berada dalam orbit Mars pada Februari 2021 mendatang.

4. Misi eksplorasi Mars oleh Eropa pada 2022 mendatang

Rencana misi eksplorasi ke Planet Mars yang akan dilakukan oleh Rusia dan Eropa harus dimundurkan hingga 2022, seperti diberitakan The Verge.

Mirip dengan NASA, Rusia juga akan mengirimkan robot penjelajah yang akan mengambil contoh-contoh tanah dan bebatuan Mars.

Dalam eksplorasi kali ini, Rusia akan bekerja sama dengan Badan Antariksa Eropa. Awalnya misi eksplorasi ini akan diluncurkan pada 2020.

Namun, akibat suatu hal, misi antariksa jarak jauh tersebut ditunda peluncurannya hingga 2022 mendatang. Selain itu, pandemik COVID-19 menjadi salah satu penyebab mengapa misi tersebut ditunda.

5. Planet Mars juga menjadi daya tarik bagi Badan Antariksa Kanada

Sudah lama Kanada bekerja sama dengan NASA dalam melakukan studi dan penelitian luar angkasa.

Pada 2020, Kanada juga akan tetap bekerja sama dengan Badan Antariksa milik Amerika Serikat tersebut untuk melakukan misi ke Planet Mars, seperti ditulis dalam laman Canadian Space Agency.

Bahkan, misi Mars 2020 ini juga akan menjadi awal dari misi yang lebih besar. Ya, Kanada dan NASA akan melakukan misi untuk mengirimkan astronaut untuk pertama kalinya pada 2030 mendatang.

Namun, tentu saja mengirimkan manusia ke Planet Merah tersebut bukanlah perkara yang mudah. Itu sebabnya Kanada sudah mulai melatih ilmuwan sekaligus astronaut mereka sedini mungkin.

***

Itulah beberapa misi ambisius dari banyak negara untuk mengeksplorasi Planet Mars. Semoga misi-misi tersebut dapat membawa kemajuan bagi sains, ya!