Kategori
Sains

Beberapa Hewan Ini Sanggup Hidup di Lingkungan yang Ekstrem

Beberapa Hewan Ini Sanggup Hidup di Lingkungan yang Ekstrem

Beberapa Hewan Ini Sanggup Hidup di Lingkungan yang Ekstrem, – Memang tidak semua orang bisa beradaptasi dengan baik dengan suhu dingin yang ekstrem. Apalagi bagi mereka yang tinggal di negara dua musim. Namun tahukah Anda bahwa ada hewan yang bisa beradaptasi dengan baik di suhu dingin yang ekstrem?

Ya, di dunia ini ada beberapa hewan yang mampu hidup dan bertahan dengan baik di suhu ekstrem.

Apa definisi hewan yang kuat menurut kamu? Hewan yang punya badan besar seperti gajah? Atau hewan bertaring tajam seperti singa, dan buaya yang bisa memburu mangsa dengan cepat? Tidak dipungkiri, ketiga hewan di atas memang kuat. Tapi kadang, kekuatan tidak melulu soal fisik.

Biasanya sebagian besar amfibi cukup sensitif terhadap dingin, tapi katak kayu berbeda. Ketika merespon udara dingin, tubuh katak kayu akan membanjiri tubuhnya dengan krioprotektan yang membantu menjaga agar katak tidak membeku. Lalu menumpuk urea di jaringan hati mereka untuk mengubah glikogen menjadi glukosa.

Beruang air atau tardigrade

Meski namanya beruang air, tapi hewan ini sebenarnya bukan beruang. Disebut beruang air, karena bentuknya memang mirip beruang jika kamu melihatnya melalui mikroskop elektron. Beruang air atau yang juga dikenal dengan nama tartigrade adalah hewan super mungil dengan panjang 0,04 inchi.

Hewan ini ada di mana-mana, dan memiliki lebih dari 1.200 spesies. Tapi yang luar biasa dari hewan ini bukanlah jumlahnya yang banyak, melainkan kemampuan mereka bertahan hidup. Tardigrade bisa hidup tanpa makan dan minum selama beberapa dekade.

Kehebatan lainnya, tardigrade juga bisa hidup di suhu super dingin -273 derajat celcius atau suhu super panas 150 derajat celcius. Saking kuatnya, para astronom NASA bahkan pernah mengirim hewan super mungil ini ke luar angkasa, dan kembali dalam keadaan hidup.

Cacing Pompeii

Ada banyak hal yang aneh dari cacing ini. Pertama, adalah namanya. Karena nama cacing ini terinspirasi dari sebuah kota besar yang hancur karena letusan gunung Vesuvius, yaitu Pompeii. Namun tidak seperti warga kota Pompeii yang berubah jadi batu, cacing Pompeii justru sangat kuat menahan panas.

Percaya atau tidak, di saat tangan manusia melepuh karena suhu 80 derajat celcius, cacing Pompeii justru bertahan tanpa kepanasan. Rahasianya ternyata adalah bakteri misterius yang menyelimuti tubuhnya, membuat cacing terlindung dari logam berat yang dihasilkan oleh ventilasi hidrotermal di dasar Pasifik.

Beruang kutub

Tidak seperti tiga hewan di awal yang berukuran mini, beruang kutub jelas merupakan raksasa. Beruang jantan bisa mencapai panjang tiga meter dengan berat 600 kg. Beda dengan beruang hitam, beruang kutub hidup di Arktik, di mana suhu rata-rata bisa mencapai -29 derajat fahrenheit selama musim dingin karena matahari tidak pernah terbit.

Karena tinggal di tempat super dingin, hewan raksasa ini dianugerahi dengan bulu super tebal yang berfungsi sebagai mantel. Seolah belum cukup, beruang kutub juga memiliki lapisan lemak setebal 4,5 inci di bawah kulitnya agar mereka tetap hangat bahkan di suhu yang sanggup membuat manusia membeku kedinginan.

Kategori
Science Chemistry

Anda Harus Tahu Prinsip dan Karakter Sains

Anda Harus Tahu Prinsip dan Karakter Sains

Anda Harus Tahu Prinsip dan Karakter Sains, – Sains atau science diambil dari kata scientia, sebuah kata latin yang bermakna pengetahuan. Pada dasarnya, sains merupakan keilmuan alam yang dapat diamati, diteliti, dan dirumuskan melalui sebuah pengamatan dan penalaran.

Jadi, seluruh objek atau materi fisik dan nonfisik yang ada di alam semesta, yang dapat dijabarkan melalui pemikiran, maka hal tersebut sudah termasuk sains.

Materi fisik dapat berupa semua benda-benda yang dapat kita lihat di mana saja, termasuk objek terjauh di alam semesta seperti bintang, galaksi, dan lain sebagainya.

Sedangkan, nonfisik merupakan pikiran, psikologi, energi, dan Daftar SBOBET WAP segala hal yang tak tampak oleh indra namun dapat dijabarkan ke dalam sebuah rumusan ilmiah.

Nah, rupanya sains memiliki beberapa prinsip dan karakter, lho. Karakter dan prinsip tersebut memang diperlukan untuk memisahkan antara sains dengan kaidah keilmuan yang lain. Kira-kira apa saja, ya? Yuk, belajar tentang sains.

1. Sains harus rasional

Jurnal sains berjudul Rationality and Science yang pernah diterbitkan oleh Oxford University mencatat bahwa sains dan rasionalitas adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.

Itu sebabnya sains bisa didapatkan melalui pemikiran yang menggunakan nalar secara logis. Prinsip dan karakter ini juga menjadikan sains sebagai sebuah kaidah keilmuan yang pasti, alias bukan takhayul.

Rasionalitas merupakan aspek sentral yang dijadikan pijakan dalam dunia sains. Pertanyaan-pertanyaan yang ada di alam, baik di sekitar kita maupun di alam semesta, harus dicari jawabannya serasional mungkin.

Sebab, pada dasarnya, sains harus dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.

2. Sains harus bersifat akumulatif

Harus Anda ketahui bahwa hipotesa dan teori sains itu bisa saja salah, meskipun digagas oleh seorang ilmuwan besar. Itu sebabnya sains harus dapat bersifat akumulatif.

Artinya, sains harus terbuka dengan segala kemungkinan yang ada. Teori atau hipotesa terbaru harus bisa menyempurnakan teori dan hipotesa sains yang lama.

Pasti Anda tahu tentang teori relativitas yang terkenal dari Einstein, bukan? Nah, teori tersebut secara tidak langsung telah menyempurnakan teori sebelumnya, yakni teori yang digagas oleh Isaac Newton.

Bukan berarti Newton salah, namun dalam perkembangannya, ada beberapa hal yang harus ditambahkan untuk menambal lubang-lubang yang sebelumnya tidak terjawab.

3. Sains harus objektif

Objektif berarti sesuai dengan fakta tanpa dipengaruhi oleh pandangan pribadi. Dalam hal ini, sains tidak boleh menutupi fakta yang ada, apalagi sampai mengubah fakta-fakta di lapangan.

Jika pun ada pendapat atau pandangan pribadi, maka pendapat tersebut juga harus didasarkan pada prinsip dan karakter sains yang ada.

Bagaimana cara mempertahankan supaya sains tetap objektif? Laman Stanford mencatat bahwa objektivitas dapat dihasilkan dari komitmen para ilmuwan yang harus selalu jujur dalam mencari dan mengemukakan data-data empiris.

Perdebatan mungkin bisa muncul dalam dunia sains, namun nilai-nilai dan prinsip objektivitas akan membawa pada sebuah kesimpulan sahih yang dapat dipertanggung jawabkan.

4. Sains juga wajib bersikap netral dan tidak politis

Dalam hal prinsip, sains harus dapat menunjukkan bahwa segala yang digagas olehnya adalah netral dan murni ilmu pengetahuan.

Sains bukanlah sebuah keilmuan yang dapat dijadikan propaganda politis bagi siapa pun. Itu sebabnya sains wajib bersikap netral dan tidak bersifat politis terhadap siapa atau apapun.

Sikap netral dibutuhkan supaya kesimpulan yang digagas dalam sebuah penelitian tidak bersifat bias, serta tidak condong memihak pada satu sisi saja.

Itu sebabnya, sangat jarang para ilmuwan melibatkan dirinya dalam sebuah pusaran politik karena pada dasarnya mereka adalah peneliti yang dituntut untuk netral.

5. Sains harus dapat dibuktikan secara empiris

Selain rasional dan objektif, sains juga harus dapat dibuktikan secara empiris. Pembuktian ini hanya bisa didapatkan melalui pengamatan, eksperimen, studi, dan penelitian yang mendalam akan suatu hal.

Setelah pengamatan empiris tersebut dilakukan, maka seorang ilmuwan dapat membentuk sebuah model dasar yang bisa dijadikan panduan dalam membuat hipotesis.

Laman sains Live Science menulis bahwa semua teori dan hipotesis sains yang ada di dunia ini harus melalui sebuah tahapan pembuktian empiris.

Itu sebabnya, penelitian dan studi mendalam wajib dilakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui dan menyimpulkan tentang sebuah pertanyaan ilmiah.

Tanpa pembuktian empiris, sains akan cenderung sulit untuk diterima dan bahkan bisa dituduh sebagai bagian dari pseudosains (ilmu semu).

***

Itulah dasar dalam prinsip dan karakter sains yang harus Anda ketahui. Bagaimana? Apa Anda juga tertarik mempelajari sains lebih dalam lagi?

Kategori
Science Chemistry

Teori Sains yang Dikoreksi oleh Teori Sains Lain

Teori Sains yang Dikoreksi oleh Teori Sains Lain

Teori Sains yang Dikoreksi oleh Teori Sains Lain, – Teori sains adalah sebuah gagasan atau hipotesa ilmiah yang telah mengalami pengujian berulang kali dan hasilnya nyaris selalu sama.

Sebelum sebuah gagasan dinaikkan sebagai teori, maka gagasan tersebut harus dimulai dari penelitian, uji coba, studi, pembentukan model, hingga hipotesis.

Nah, kira-kira teori sains apa saja ya, yang pernah dikoreksi oleh teori sains yang lebih baru? Mengapa teori yang baru bisa menggantikannya? Yuk, disimak!

1. lobotomi

Dalam dunia kedokteran, teori lobotomi merupakan salah satu teori yang mungkin sangat dikenal, terutama dalam bidang penyembuhan penyakit otak. Mulai dari ayan, gangguan jiwa, dan halusinasi, dulunya diobati dengan cara lobotomi.

Dicatat dalam Live Science, teori lobotomi dikemukakan oleh seorang dokter asal Swiss pada 1880 silam. Dokter bernama Gottlieb Burkhardt tersebut menilai bahwa gangguan jiwa dan halusinasi dapat diobati dengan cara melubangi kepala pasien.

Praktik ini masih dilakukan di dunia medis hingga 1950-an, di saat para ilmuwan menemukan teori baru tentang pengobatan kejiwaan melalui metode obat antidepresan dan psikotropika.

Hingga kasus lobotomi dihentikan, sedikitnya ada sekitar 50.000 praktik lobotomi dilakukan di Amerika Serikat. Bagi kebanyakan pasien, lobotomi justru membawa dampak yang lebih buruk, yakni menurunnya kemampuan pasien dalam melakukan sesuatu.

2. Teori fisi

Bagaimana asal mula Bulan terbentuk? Pada era 1800-an sebuah teori tentang pembentukan Bulan pernah digagas oleh George Darwin. Teori yang dinamakan teori fisi ini menyatakan bahwa Bulan terbentuk akibat hempasan dari planet Bumi.

Hempasan tersebut terjadi karena Bumi pada saat itu berputar sangat cepat dan melontarkan bagian besarnya ke luar Bumi, yang akhirnya menjadi Bulan. Namun, teori ini memiliki banyak kelemahan.

Bagaimana pun, unsur-unsur Bulan jelas sangat berbeda dengan unsur Bumi. Bukti tersebut diperkuat pada 1969 silam saat Neil Armstrong membawa beberapa batuan dan tanah Bulan ke Bumi untuk diteliti.

Kini, teori yang lebih baru digagas untuk mengungkap bagaimana Bulan terbentuk di masa purba. Laman Space mencatat bahwa teori tubrukan besar lebih masuk akal dan dapat di teliti jejak-jejaknya.

Pembentukan Bulan di masa purba juga terjadi hampir bersamaan dengan pembentukan Bumi. Akibat tubrukan besar tersebut, unsur-unsur Bulan menjadi tidak sama dengan unsur planet Bumi.

Namun, apakah kejadian tersebut melibatkan bagian Mars atau Venus, itu yang masih diteliti oleh para ilmuwan.

3. Teori sekelas Newton

Bukan berarti teori Newton salah, lho. Hanya saja, Einstein tidak sependapat dengan Newton berkaitan dengan konsep ruang dan waktu. Di sini, teori Einstein justru menggenapi teori-teori sebelumnya, salah satunya teori milik Newton.

Secara sederhana, Einstein menganggap bahwa alam semesta itu dinamis, karena adanya ruang dan waktu yang dinamis dan relatif. Sedangkan Newton menganggap bahwa ruang dan waktu itu bersifat statis.

Bisa dibilang gagasan Newton mengenai gravitasi juga digunakan oleh Einstein dalam mengembangkan gagasannya mengenai ruang dan waktu. Hanya saja, teori Einstein dapat menjabarkan konsep-konsep tertentu dengan sangat detail.

Teori relativitas Einstein juga menjadi dasar bagi pengembangan teori selanjutnya, yang digunakan oleh ilmuwan modern lain, semisal Stephen Hawking.

Relativitas inilah yang menjabarkan tentang mekanika kuantum, distorsi ruang waktu, kecepatan cahaya, hingga konsep perjalanan waktu.

4. Teori geosentris

Teori geosentris adalah sebuah gagasan teori yang menyatakan bahwa Bumi merupakan pusat alam semesta. Teori ini digagas oleh seorang astronom asal Yunani bernama Claudius Ptolemaeus dan Aristoteles.

Bukan hanya seorang astronom, Claudius juga seorang ahli fisika dan matematika yang cukup disegani pada zamannya. Begitu juga dengan Aristoteles, di mana ia adalah seorang filsuf besar Yunani dan murid dari Plato.

Namun, sains tentunya sangat terbuka dengan segala macam pembaharuan. Teori geosentris atau geosentrisme tidak lagi digunakan sebagai pijakan sains setelah muncul teori baru yang lebih valid, yakni teori heliosentris.

Meskipun jarak waktu di antara kedua teori tersebut cukup jauh, nyatanya memang dibutuhkan waktu lama untuk menganalisa bagaimana konsep tentang Tata Surya itu. Terlebih pada saat itu belum ada teknologi canggih seperti saat ini.

Universe Today dalam lamannya menyebutkan bahwa teori heliosentris yang dikemukakan oleh Nicolaus Copernicus tersebut, telah mengubah pandangan sains secara masif. Pada abad ke-16, di mana sains mulai memainkan peranan penting, teknologi masih jauh dari kata canggih.

Namun, terbukti hingga kini, bahwa Bumi memang bukanlah pusat dari Tata Surya. Faktanya, Bumi hanyalah planet yang sama dengan planet-planet lainnya yang mengelilingi Matahari sebagai bintang terbesar di Tata Surya.

5. Teori big bang

Pada era 1700-an Immanuel Kant dan Piere Simon de Laplace pernah menggagas sebuah teori tentang pembentukan alam semesta, yakni teori kabut nebula.

Teori ini menyatakan bahwa alam semesta terbentuk dari sebuah kabut nebula yang sangat panas dan akhirnya dapat membentuk objek-objek angkasa.

Namun, teori ini masih memiliki banyak celah dan mengundang banyak perdebatan yang tak terjawab. Salah satu hal yang tidak dijelaskan dengan detail dalam teori ini adalah bagaimana gaya gravitasi dapat memengaruhi pembentukan kabut nebula tersebut.

Pada zaman yang lebih modern, yakni pada 1927, muncul teori baru tentang pembentukan alam semesta. Teori ini digagas oleh seorang pastor dan astronom Belgia bernama Georges Lemaitre.

Ia mengungkap bahwa alam semesta terbentuk akibat sebuah ledakan yang dahsyat, di mana ledakan hebat tersebut melontarkan partikel-partikel pembentuk alam semesta.

Teori yang dinamakan big bang atau ledakan dahsyat ini masih menjadi teori valid yang saat ini digunakan sebagai pijakan sains. Bahkan NASA telah mengonfirmasi bahwa alam semesta telah mengembang sebagai bukti terjadinya big bang di masa lalu, yakni sekitar 13,8 miliar tahun lalu.

Kategori
Science Chemistry

Teori yang digantikan Teori Sains Lainnya

Teori Sains yang Dikoreksi oleh Teori Sains Lainnya, Apa Saja?

Teori yang digantikan Teori Sains Lainnya – Sebuah teori digantikan ketika sebuah konsensus ilmiah. Pernah menerimanya secara luas, tetapi sains saat ini menganggapnya sebagai tidak memadai, tidak lengkap, atau dibantah (yaitu, salah).

Sudah sedemikian ketatnya prosedur yang dilakukan untuk menggagas sebuah teori, toh nyatanya masih ada beberapa teori sains yang akhirnya harus dikoreksi. Teori-teori sains itu direvisi oleh teori sains baru yang lebih valid.

Nah, kira-kira teori sains apa saja ya, yang pernah dikoreksi oleh teori sains yang lebih baru? Mengapa teori yang baru bisa menggantikannya? Yuk, disimak!

Sempat dilakukan dalam dunia medis, lobotomi akhirnya digantikan dengan obat-obatan yang lebih manusiawi

Dalam dunia kedokteran, teori lobotomi merupakan salah satu teori yang mungkin sangat dikenal, terutama dalam bidang penyembuhan penyakit otak. Mulai dari ayan, gangguan jiwa, dan halusinasi, dulunya diobati dengan cara lobotomi.

Praktik ini masih dilakukan di dunia medis hingga 1950-an, di saat para ilmuwan menemukan teori baru tentang pengobatan kejiwaan melalui metode obat antidepresan dan psikotropika.

Hingga kasus lobotomi dihentikan, sedikitnya ada sekitar 50.000 praktik lobotomi dilakukan di Amerika Serikat. Bagi kebanyakan pasien, lobotomi justru membawa dampak yang lebih buruk, yakni menurunnya kemampuan pasien dalam melakukan sesuatu.

Teori fisi juga dipatahkan oleh teori lainnya, yakni teori tubrukan besar

Bagaimana asal mula Bulan terbentuk? Pada era 1800-an sebuah teori tentang pembentukan Bulan pernah digagas oleh George Darwin. Teori yang dinamakan teori fisi ini menyatakan bahwa Bulan terbentuk akibat hempasan dari planet Bumi.

Hempasan tersebut terjadi karena Bumi pada saat itu berputar sangat cepat dan melontarkan bagian besarnya ke luar Bumi, yang akhirnya menjadi Bulan. Namun, teori ini memiliki banyak kelemahan.

Pembentukan Bulan di masa purba juga terjadi hampir bersamaan dengan pembentukan Bumi. Akibat tubrukan besar tersebut, unsur-unsur Bulan menjadi tidak sama dengan unsur planet Bumi. Namun, apakah kejadian tersebut melibatkan bagian Mars atau Venus, itu yang masih diteliti oleh para ilmuwan.

Sebuah Teori atau Ide ditemukan Tidak Berdasar dan dibuang Begitu Saja

Teori geosentris yang akhirnya dikoreksi oleh teori heliosentris

Teori geosentris adalah sebuah gagasan teori yang menyatakan bahwa Bumi merupakan pusat alam semesta. Teori ini digagas oleh seorang astronom asal Yunani bernama Claudius Ptolemaeus dan Aristoteles.

Bukan hanya seorang astronom, Claudius juga seorang ahli fisika dan matematika yang cukup disegani pada zamannya. Begitu juga dengan Aristoteles, di mana ia adalah seorang filsuf besar Yunani dan murid dari Plato.

Namun, terbukti hingga kini, bahwa Bumi memang bukanlah pusat dari Tata Surya. Faktanya, Bumi hanyalah planet yang sama dengan planet-planet lainnya yang mengelilingi Matahari sebagai bintang terbesar di Tata Surya.

Itulah beberapa teori sains yang pernah direvisi oleh teori sains lainnya. Semoga artikel kali ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan kamu, ya!

Kategori
Sains

Senjata Sains Yang Mematikan Di Dunia

Senjata Mematikan Sains – Saat ini ilmu sains mempunyai kontribusi yang sangat besar bagi umat manusia. Mulai dari ilmu kedokteran, akademi, penelitian luar angkasa hingga teknologi-teknologi yang membantu kehidupan manusia. Semua itu terjadi berkat rumusan sains.

Baca Juga: 5 Misi Eksplorasi Mars dari Berbagai Negara

Namun tidak semua penemuan sains bisa digunakan untuk perdamaian dunia. Karena beberapa diantaranya lebih sering digunakan untuk tujuan peperangan. Dan salah satu penemuan yang sangat populer adalah senjata-senajta mematikan.

Jadi untuk itu, berikut ini adalah beberapa jenis senjata mematikan yang hadir karena adanya rumusan sains. Penasaran? simak selengkapnya dibawah ini.

1. Senjata Laser

Seperti diberitakan Popular Mechanics, senjata laser yang dipasang di kapal perang USS Portland merupakan salah satu senjata paling mematikan yang dikembangkan oleh Angkatan Laut Amerika Serikat. Senjata tersebut dinamakan The Optical Dazzling Interdictor Navy atau ODIN, di mana senjata ini dirancang untuk menghalau rudal dan drone.

Bagaimana senjata laser tersebut bekerja? Laser bisa ada akibat frekuensi yang dihasilkan oleh gelombang cahaya, di mana laser yang digunakan untuk senjata memiliki energi yang cukup besar untuk menghancurkan sebuah objek benda. Laman How Stuff Works menjelaskan bahwa laser dapat ditembakkan dengan rentang jarak yang sangat jauh.

Meskipun bersifat mirip cahaya, namun gelombang laser memiliki kekuatan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan gelombang cahaya biasa. Laser melepaskan foton atau partikel cahaya yang ditransformasikan menjadi energi berupa panas. Senjata laser yang digunakan saat ini juga sering dikombinasikan dengan beberapa senyawa gas, yakni fluorin, kluorin, argon, dan karbon dioksida.

2. Senjata Kimia

Gas kimia menjadi salah satu senjata mematikan yang terkadang juga digunakan dalam sebuah peperangan. Namun, dari semua senjata kimia yang ada, tidak semuanya bersifat mematikan. Ada beberapa yang dibuat untuk tujuan melumpuhkan dan membutakan sesaat.

Seperti dicatat dalam Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons, senjata perang berupa senjata kimia memiliki banyak jenis. Mulai dari yang alami, di mana biasanya diambil dari kandungan tanaman, sampai senjata biologis mematikan yang dibuat secara sintetis di laboratorium.

Tentu saja pembuatan senjata kimia ini menerapkan sains di bidang kimia dan biologi secara khusus. Biasanya, ilmuwan akan memisahkan beberapa kandungan dan senyawa sesuai dengan kebutuhannya. Dalam beberapa kesempatan, senjata kimia dan biologis telah dilarang penggunaannya untuk keperluan perang. Hal ini akibat dari dampak masif yang ditimbulkan oleh senjata berupa gas dan cairan kimia tersebut.

3. Bom Atom

Senjata nuklir telah menjadi salah satu senjata yang dianggap momok atau menakutkan karena dampaknya yang sangat mematikan. Contoh senjata nuklir yang pernah digunakan dalam peperangan adalah bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima dan Nagasaki pada saat Perang Dunia II lalu. Akibatnya, dalam hitungan detik sebuah kota dapat rata dengan tanah beserta dengan seluruh kehidupan di dalamnya.

Seperti ditulis dalam Atomic Heritage, bom atom dibuat berdasarkan ilmu sains di bidang fisika dan kimia, yakni pemisahan inti antara neutron dan nukleus pada partikel atom. Ketika neutron dan nukleus atom bersatu, maka akan terjadi ledakan energi yang sangat dahsyat dan mematikan, bahkan dapat meratakan sebuah kota besar seperti.

Oh ya, bom atom juga tak lepas dari rumusan sains terkenal dari Einstein, yakni E=mc2. Rumusan ini memang menjadi cikal bakal pembuatan teknologi nuklir, termasuk senjata nuklir yang telah dimiliki oleh banyak negara besar di dunia. Tentu saja Einstein tidak mengharapkan bahwa rumusan yang ia gagas digunakan untuk kepentingan perang. Namun, apa daya, saat ini sudah ada banyak negara berlomba dalam membuat senjata nuklir idnplay poker.

4. Senapan Sniper

Senapan sniper adalah sebuah senjata yang digunakan untuk menembak jarak jauh. Laman Small Wars Journal mencatat bahwa seorang sniper atau penembak runduk dapat membunuh tergetnya dengan sangat efektif. Jika senapan laras panjang M14 dan M16 memiliki banyak kesalahan dalam setiap bidikannya, di mana rata-rata ada 200.000 peluru untuk membunuh 1 target, maka sniper hanya membutuhkan rata-rata 1,3 peluru untuk melakukan tugas yang sama.

Tentu saja senapan sniper dan senjata-senjata api lainnya bekerja berdasarkan beberapa teori fisika. Salah satu sistem kerja senjata api mengandalkan prinsip termodinamika. Dalam prinsip tersebut dijelaskan bahwa dengan energi yang kecil dapat menghasilkan sebuah energi atau dampak yang besar. Inilah yang mendasari dibuatnya senjata api.

Dengan sebuah letupan kecil akibat benturan firing pin dengan pangkal peluru, maka dihasilkan sebuah ledakan energi propelan (bahan pendorong) dalam peluru. Nah, akibat ledakan energi ini, sebuah peluru dapat melesat dengan kecepatan 1.000 meter per detik dan menembus objek yang ada di hadapannya.

Baca Juga: Alasan Sains Ini Membuktikan Perempuan Lebih Unggul dari Laki-laki

Itulah tadi beberapa senjata mematikan yang ditemukan karena rumusan sains. Semoga dengan artikel diatas bisa menambah wawasan dan informasi terbaru buat kamu.