Kategori
Science Chemistry

Hal Tidak Terduga Ini Bisa Mengancam Kesehatan Jiwamu

Hal Tidak Terduga Ini Bisa Mengancam Kesehatan Jiwamu

Hal Tidak Terduga Ini Bisa Mengancam Kesehatan Jiwamu – Menurut para ilmuwan, lebih dari 30 persen penduduk menderita gangguan kecemasan, serta berbagai fobia lainnya dan ini sebenarnya adalah epidemi besar. Bahkan hal-hal dihadapi setiap hari sebenarnya bisa mempengaruhi kesehatan jiwamu secara negatif.

Misalnya, parasit yang dibawa oleh kucing ternyata bisa menyebabkan serangan panik. Sementara aktivitas olahraga yang terlalu intens bisa merangsang produksi hormon stres.

1. Diskon

1. Diskon 300x192 - Hal Tidak Terduga Ini Bisa Mengancam Kesehatan Jiwamu Menurut para ilmuwan, harga rendah yang terkait dengan penjualan musiman mempengaruhi area otak, yang bertanggung jawab untuk kesenangan. Tetapi saat orang lain di toko mencoba untuk menggoyangkan barang yang ada dari tanganmu, dosis besar kortisol (hormon stres) akan disuntikkan ke darah dan membuat pembeli kehilangan kendali.

Jika hatimu mulai berdetak lebih cepat ketika kamu mendengar kata “diskon” atau jika kamu tidak dapat membayangkan hidupmu tanpa belanja, coba cari pelarian yang paling efektif tapi tidak konsumtif.

2. Kucing

2. Kucing 300x195 - Hal Tidak Terduga Ini Bisa Mengancam Kesehatan Jiwamu

Toksoplasmosis adalah parasit yang dibawa oleh kucing kita yang cantik. Anjing juga milik toxoplasmosis tetapi mereka tidak dapat infeksi manusia. Orang-orang yang suka kucing dan tidak suka mencuci tangan berisiko untuk terkena penyakit ini. Menurut beberapa laporan, hampir 1/3 dari penduduk bumi terinfeksi, tetapi parasit iini hampir tidak berbahaya bagi orang-orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat.

Untuk mereka dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah, cukup berbahaya kalau mereka sampai terkena parasit ini. Menurut penelitian terbaru, toksoplasmosis merugikan jiwa – itu meningkatkan risiko depresi, skizofrenia, dan gangguan bipolar. Selain itu, meningkatkan risiko terjadinya kecelakaan mobil.

Saran: Untuk melindungi dari terinfeksi parasit ini, vaksinasi hewan peliharaanmu – ini akan melindungi kucingmu dan kamu

3. Musik

3. Musik 300x169 - Hal Tidak Terduga Ini Bisa Mengancam Kesehatan Jiwamu

Orang yang suka mengisolasi dari dunia dengan musik dan headphone itu 8 kali lebih mungkin mengalami depresi. Namun, sebenarnya tidak sesederhana itu.

Karena psikolog tidak dapat mengetahui apakah depresi muncul karena terlalu sering mendengarkan musik atau, sebaliknya, jika orang yang depresi mulai mendengarkan musik yang mencoba melarikan diri dari kenyataan.

Bagaimanapun, ini adalah pengamatan yang sangat berharga yang membantu mengidentifikasi orang-orang yang rentan terhadap depresi.

4. Gadget dan chat

4. Gadget dan chat 1 300x141 - Hal Tidak Terduga Ini Bisa Mengancam Kesehatan Jiwamu

Terus mengecek gadget dan chat yang ada dalamnya bisa menyebabkan perasaan cemas, yang bisa menjadi tanda awal depresi. Arus besar informasi yang masuk bisa membuat pengguna merasa tertekan. Menurut penelitian terbaru, hampir 30 persen anak muda merasakan berbagai gejala kondisi depresi.

Saran: Psikolog yakin bahwa komunikasi tatap muka bisa membantu mengobati depresi. Cobalah mengambil hari libur dari gadgetmu dan rasakan perbedaan pada kecemasan yang biasanya kamu rasakan.

5. Optimisme berlebihan

5. Optimisme berlebihan 300x200 - Hal Tidak Terduga Ini Bisa Mengancam Kesehatan Jiwamu

Optimisme yang berlebihan berbahaya bagi kesehatan psikologismu. Fenomena ini bahkan memiliki nama ilmiah – toxic optimism. Ekspektasi berlebihan sering tidak terwujud, yang menyebabkan frustrasi dan munculnya ketidaknyamanan secara psikologis. Dan ini semua bisa mengarah pada perkembangan depresi.

Saran: Pertimbangkan semua kemungkinan hasil dari peristiwa, buat upaya untuk mencapai tujuanmu. Jangan hanya duduk tanpa melakukan apa-apa.

Kategori
Science Chemistry

Alasan Ilmiah Obsesi Mengejar Seseorang yang Tak Menyukaimu

Alasan Ilmiah Obsesi Mengejar Seseorang yang Tak Menyukaimu

Alasan Ilmiah Obsesi Mengejar Seseorang yang Tak Menyukaimu, – Obsesi, menurut KBBI daring ialah “gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan”. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM 5) yang menjadi acuan Psikologi dan Psikiatri terdapat gangguan obsesif-kompulsif. Yang ditandai dengan adanya pikiran, bayangan, dan dorongan untuk melakukan sesuatu, sehingga menimbulkan kecemasan tersendiri.

Misalnya seseorang yang terdorong untuk mandi 5 kali sehari, jika belum tercapai, maka ia merasa cemas. Biasanya, untuk mengurangi kecemasan tersebut, maka ia akan melakukan kompulsi, atau perilaku berulang untuk meredakan kecemasan akibat obsesi.

Di satu titik dalam permasalahan jatuh cinta, kamu (atau setidaknya kawan atau kerabatmu) pasti pernah dihadapkan dengan situasi terobsesi dengan seseorang. Kamu tidak bisa tidak memikirkannya dan di satu sisi kamu juga tidak bisa move-on dari dia. Menariknya, secara sadar kamu juga paham kamu tidak bisa mendapatkan si dia karena tahu betul perasaannya tak tertuju kepadamu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, yang ada di pikiranmu hanya si dia. Kamu tidak bisa menjelaskan semua ini dan hanya bisa menyangkalnya dengan mengatakan, “Inilah rasanya cinta”. Sayang sekali karena obsesi ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah secara psikologis.

Perasaan jatuh cinta membuatmu masuk dalam disonansi kognitif

Apakah kamu pernah menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk mengetahui perasaan cinta yang kamu rasakan maupun dia dan berakhir dengan suasana overthinking yang sangat tidak mengenakkan? Menebak apakah dia menyukaimu atau tidak? Lalu saat kamu berusaha untuk tetap tenang, kamu pelan-pelan malah menjadi gelisah dan akhirnya meledak menjadi penuh drama.

Kawanku, fenomena itu dinamakan cognitive dissonance atau disonansi kognitif. Secara penjelasannya, itu adalah fenomena psikologi yang tidak mengenakkan akibat seseorang memikirkan dua atau lebih kepercayaan, gagasan atau nilai yang saling berkontradiksi atau berlawanan. Akibat memikirkan kontradiksi ini, itu membuatmu menjadi susah fokus.

Umumnya disonansi kognitif terjadi saat kamu mencoba menerjemahkan “kode”

Dalam konteks hubungan asmara, pengalaman disonansi kognitif ini sering terjadi ketika kamu mencoba menerjemahkan sinyalnya si dia. Dengan kata lain, kamu mencoba memahami kebiasaan yang mengindikasikan si dia menyukaimu dengan sinyal dia menolakmu.

Skenarionya seperti ini: kamu bertemu dengan seseorang di tempat kerja atau sekolah dan langsung cocok. Ada koneksi instan yang kamu rasakan mengingat ada banyak hal sama yang kalian berdua miliki: selera musik, film atau apa pun itu. Dia tersenyum kepadamu dan mengajakmu minum di suatu waktu. Intinya kamu mendapatkan sinyal orang ini tertarik kepadamu.

Kamu mulai sering melihatnya di lokasi kerja atau sekolahmu itu, tentu saja sebagai teman. Kamu pun memulai perbincangan di WhatsApp, bertukar meme, dan merencanakan kapan waktu yang tepat untuk mengobrol bersama lagi.

Tiba-tiba saja dia menarik diri. Interaksimu dengan dia menjadi pendek dan dia seakan-akan tidak tertarik berbincang denganmu. Pesan yang mereka balas juga tidak panjang dan tidak sekonsisten sebelumnya. Kamu pun mulai memasuki titik ketidakjelasan yang mana membuatmu tidak tahu di mana kamu berdiri.