Kategori
Science Chemistry

Alasan Ilmiah Obsesi Mengejar Seseorang yang Tak Menyukaimu

Alasan Ilmiah Obsesi Mengejar Seseorang yang Tak Menyukaimu

Alasan Ilmiah Obsesi Mengejar Seseorang yang Tak Menyukaimu, – Obsesi, menurut KBBI daring ialah “gangguan jiwa berupa pikiran yang selalu menggoda seseorang dan sangat sukar dihilangkan”. Dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder (DSM 5) yang menjadi acuan Psikologi dan Psikiatri terdapat gangguan obsesif-kompulsif. Yang ditandai dengan adanya pikiran, bayangan, dan dorongan untuk melakukan sesuatu, sehingga menimbulkan kecemasan tersendiri.

Misalnya seseorang yang terdorong untuk mandi 5 kali sehari, jika belum tercapai, maka ia merasa cemas. Biasanya, untuk mengurangi kecemasan tersebut, maka ia akan melakukan kompulsi, atau perilaku berulang untuk meredakan kecemasan akibat obsesi.

Di satu titik dalam permasalahan jatuh cinta, kamu (atau setidaknya kawan atau kerabatmu) pasti pernah dihadapkan dengan situasi terobsesi dengan seseorang. Kamu tidak bisa tidak memikirkannya dan di satu sisi kamu juga tidak bisa move-on dari dia. Menariknya, secara sadar kamu juga paham kamu tidak bisa mendapatkan si dia karena tahu betul perasaannya tak tertuju kepadamu.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, yang ada di pikiranmu hanya si dia. Kamu tidak bisa menjelaskan semua ini dan hanya bisa menyangkalnya dengan mengatakan, “Inilah rasanya cinta”. Sayang sekali karena obsesi ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah secara psikologis.

Perasaan jatuh cinta membuatmu masuk dalam disonansi kognitif

Apakah kamu pernah menghabiskan waktu hingga berjam-jam untuk mengetahui perasaan cinta yang kamu rasakan maupun dia dan berakhir dengan suasana overthinking yang sangat tidak mengenakkan? Menebak apakah dia menyukaimu atau tidak? Lalu saat kamu berusaha untuk tetap tenang, kamu pelan-pelan malah menjadi gelisah dan akhirnya meledak menjadi penuh drama.

Kawanku, fenomena itu dinamakan cognitive dissonance atau disonansi kognitif. Secara penjelasannya, itu adalah fenomena psikologi yang tidak mengenakkan akibat seseorang memikirkan dua atau lebih kepercayaan, gagasan atau nilai yang saling berkontradiksi atau berlawanan. Akibat memikirkan kontradiksi ini, itu membuatmu menjadi susah fokus.

Umumnya disonansi kognitif terjadi saat kamu mencoba menerjemahkan “kode”

Dalam konteks hubungan asmara, pengalaman disonansi kognitif ini sering terjadi ketika kamu mencoba menerjemahkan sinyalnya si dia. Dengan kata lain, kamu mencoba memahami kebiasaan yang mengindikasikan si dia menyukaimu dengan sinyal dia menolakmu.

Skenarionya seperti ini: kamu bertemu dengan seseorang di tempat kerja atau sekolah dan langsung cocok. Ada koneksi instan yang kamu rasakan mengingat ada banyak hal sama yang kalian berdua miliki: selera musik, film atau apa pun itu. Dia tersenyum kepadamu dan mengajakmu minum di suatu waktu. Intinya kamu mendapatkan sinyal orang ini tertarik kepadamu.

Kamu mulai sering melihatnya di lokasi kerja atau sekolahmu itu, tentu saja sebagai teman. Kamu pun memulai perbincangan di WhatsApp, bertukar meme, dan merencanakan kapan waktu yang tepat untuk mengobrol bersama lagi.

Tiba-tiba saja dia menarik diri. Interaksimu dengan dia menjadi pendek dan dia seakan-akan tidak tertarik berbincang denganmu. Pesan yang mereka balas juga tidak panjang dan tidak sekonsisten sebelumnya. Kamu pun mulai memasuki titik ketidakjelasan yang mana membuatmu tidak tahu di mana kamu berdiri.