Kategori
Sains

Fakta Sains tentang Kelahiran dan Kematian Bintang

Fakta Sains tentang Kelahiran dan Kematian Bintang

Fakta Sains tentang Kelahiran dan Kematian Bintang, – Analisa baru pada isotop besi dalam meteorit yang dilakukan ilmuwan baru-baru ini mengungkap bagaimana kelahiran Bumi di tata surya ini. Pada masa-masa awal tata surya, ternyata bayi Bumi membutuhkan waktu yang jauh lebih singkat untuk terbentuk.

Nah, salah satu objek alam semesta yang sangat unik dan bisa kita pelajari adalah bintang. Apa itu bintang? Bagaimana proses kelahiran dan kematian bintang di alam semesta?

Yuk, kita sama-sama belajar mengenai bintang, objek angkasa yang berkelap-kelip.

1. Apa itu bintang?

Dilansir https://christian-mommies.com, Seperti dicatat dalam laman NASA, bintang dapat diartikan sebagai objek astronomi yang mewakili elemen penyusun dasar dari berbagai gugusan semesta seperti tata surya dan galaksi. Karena sifatnya sebagai penyusun gugusan semesta, bintang juga berjumlah sangat banyak dengan berbagai macam ukuran, sifat, jenis, dan karakternya.

Bintang terbesar dalam tata surya kita adalah Matahari. Karena ukurannya yang cukup masif, hal tersebut cukup untuk membentuk massa dan kekuatan gravitasi untuk menjaga planet-planet di sekitarnya supaya tetap bergerak mengelilingi Matahari secara teratur.

Jika dinilai dari segi ukurannya, ada banyak bintang di alam semesta yang memiliki ukuran jauh lebih besar ketimbang Matahari.

Sifat dan karakter bintang sangat berbeda dengan planet, meskipun terkadang masih ada banyak orang yang menyamakan keduanya.

Perbedaan mendasarnya adalah pada kemampuan objek dalam memancarkan cahaya, seperti diulas dalam National Geographic. Bintang adalah objek angkasa yang dapat memancarkan cahayanya sendiri, sedangkan planet tidak.

Jika dilihat dari Bumi di malam hari, bintang dan planet juga memiliki ciri khas yang berbeda namun agak mirip. Bintang, jika dilihat di malam hari, cahayanya akan terlihat berkelap-kelip.

Sedangkan, cahaya planet akan terlihat statis (tidak berkelip) dan kabur. Nah, rupanya planet dapat memantulkan cahaya dari cahaya bintang di sekitarnya, misalnya Matahari.

Tidak diketahui ada berapa banyak jumlah bintang di alam semesta. Kemungkinan jumlahnya memang mustahil untuk dihitung mengingat luas alam semesta yang nyaris tanpa batas.

Bahkan, ilmuwan dan akademisi menganggap bahwa jumlah bintang bisa mendominasi di alam semesta, jauh lebih banyak ketimbang planet dan objek semesta lainnya.

2. Proses kelahiran bintang

Bintang yang ada di alam semesta mengawali hidupnya dengan proses kelahiran. Bagaimana sebuah bintang dilahirkan? Kelahiran sebuah bintang melibatkan reaksi fusi, yakni reaksi yang melibatkan atom-atom di bawah tekanan tertentu yang menyebabkan nukleusnya mengalami reaksi dahsyat.

Dengan kata lain, kelahiran bintang melibatkan sebuah reaksi termonuklir di bagian inti calon bintang. Meskipun ada reaksi dari partikel-partikel lainnya, namun jika tidak cukup kuat untuk membentuk reaksi fusi atau termonuklir, maka bintang tak akan terbentuk. Itu sebabnya gaya gravitasi menjadi kunci dari pembentukan bintang.

Gaya gravitasi akan menekan partikel atom dalam gumpalan gas sampai reaksi fusi terbentuk. Jika gravitasi cukup kuat untuk menekan gaya dari dalam dan luar secara seimbang, maka pembentukan bintang akan tetap stabil. Nah, dari mana partikel-pertikel pembentuk bintang berasal? Partikel tersebut berasal dari awan nebula.

Awan nebula merupakan kumpulan gas yang sangat masif dan berjarak beberapa tahun cahaya. Partikel-partikel dalam awan nebula dapat membentuk banyak bintang jika gaya gravitasi cukup untuk membentuk reaksi fusi atau termonuklir. Nah, Anda sudah paham bagaimana bintang itu terbentuk, ‘kan?

3. Berapa usia bintang?

Bintang di alam semesta bisa berusia sangat lama. Bahkan, ada banyak bintang purba yang usianya sangat tua nyaris menyamai usia alam semesta itu sendiri. Kebanyakan bintang di alam semesta berusia 1 – 10 miliar tahun dan banyak di antara mereka yang sudah mulai memasuki fase akhir dari kehidupannya.

Ada sedikit bintang yang usianya menyamai alam semesta, yakni lebih dari 13 miliar tahun. Bagaimana usia bintang didapatkan? Ditulis dalam Scientific American, para ilmuwan dan ahli astronomi dapat mengukur usia sekelompok bintang dalam sebuah gugusan tertentu. Mengukur usia sekelompok bintang jauh lebih mudah ketimbang mengukur usia satu buah bintang.

Hal tersebut dimungkinkan karena sekelompok bintang yang terdapat dalam sebuah gugusan yang sama biasanya memiliki usia yang sama pula. Dengan data, analisa, dan pengamatan sebuah bintang melalui teleskop luar angkasa, didapatkan angka-angka matematis untuk menyimpulkan berapa kira-kira usia kelompok bintang yang sedang diamati tersebut.

Bahkan, dengan teknologi penghitungan yang lebih baik, ilmuwan dapat memperoleh data dan diagram mengenai keberadaan bintang-bintang yang ada pada gugusan klaster tertentu. Data dan diagram tersebut didapatkan dari teleskop luar angkasa Hubble yang selama ini sudah sering digunakan untuk menangkap objek jauh di alam semesta.

4. Ada bintang yang usianya lebih tua ketimbang usia alam semesta. Benarkah?

Konon katanya ada sebuah bintang besar yang usianya lebih tua dari alam semesta itu sendiri. Bintang tersebut bernama Methuselah atau HD 140283. Nama Methuselah sendiri diambil dari Alkitab dan dianggap sebagai salah satu tokoh dengan usia terpanjang di Bumi, yakni 969 tahun.

Bintang Methuselah berada di Konstelasi Libra dan berjarak sekitar 190 tahun cahaya dari Bumi, seperti dicatat dalam laman Space. Pada tahun 2000 lalu, beberapa ilmuwan dan akademisi meneliti mengenai bintang tersebut menggunakan satelit Hipparcos milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Hasilnya sungguh mengejutkan karena bintang yang diamati tersebut memiliki usia 16 miliar tahun.

Bagaimana mungkin sebuah bintang besar dapat memiliki usia yang jauh lebih tua ketimbang alam semesta itu sendiri? Jika usia alam semesta adalah 13,8 miliar tahun, itu berarti ada selisih sebesar 2,2 miliar tahun dengan bintang Methuselah. Beberapa ilmuwan lainnya menyatakan bahwa selisih usia yang begitu jauh harus dihitung ulang karena tidak mungkin ada bintang yang jauh lebih tua dibanding dengan alam semesta.

Apalagi bintang tersebut juga mengandung helium, hidrogen, dan zat besi yang seharusnya partikel-partikel tersebut baru ada setelah alam semesta terbentuk. Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa salah satu ketidakpastian penghitungan yang dilakukan di masa lalu ada pada letak dan jarak presisi dari bintang tersebut.

Selain itu, reaksi nuklir dan fusi yang terjadi pada bintang Methuselah di masa lalu juga kemungkinan tidak dihitung secara tepat. Penghitungan reaksi fusi yang terjadi pada bintang di masa lalu sangat penting untuk dipelajari guna mendapatkan patokan usia yang sesungguhnya. Studi terbaru menyatakan bahwa usia bintang Methuselah adalah 14 miliar tahun.

Bagaimanapun usia bintang Methuselah masih cukup terpaut jauh dengan usia alam semesta. Tapi ilmuwan tetap yakin bahwa usia yang sesungguhnya adalah sama dengan alam semesta itu sendiri dan adanya selisih usia dalam rentang yang cukup jauh bisa diakibatkan oleh ketidakakuratan data.

5. Proses kematian bintang

Bagaimana proses kematian dari bintang? Bintang dapat mati jika sudah kehabisan bahan bakar nuklirnya. Biasanya, bintang dengan massa yang sangat besar akan menghabiskan bahan bakarnya dengan cepat. Begitu bahan bakarnya habis, bintang tersebut meledak menjadi supernova.

Setelah bintang meledak menjadi ledakan supernova, zona tersebut akan ada sisa-sisa dari bintang hancur tersebut yang bernama bintang neutron (inti bintang yang runtuh). Jika massanya cukup besar, biasanya bintang mati akan membentuk sebuah black hole atau lubang hitam.

Itu sebabnya, lubang hitam memiliki gaya gravitasi yang sangat kuat dan bahkan dapat mengisap cahaya. Bintang-bintang yang hanya berukuran Matahari biasanya hanya menjalani proses kematian yang biasa saja. Biasanya, bintang mati dengan ukuran kecil akan menjadi sebuah raksasa merah, yakni hasil dari penggabungan helium pada inti bintang. Inti dari bintang mati ukuran kecil akan tetap sebagai katai putih yang dapat bertahan miliaran tahun atau mungkin selamanya.

Namun, jika bintang mati tersebut memiliki ukuran massa puluhan atau bahkan jutaan kali Matahari, maka bintang tersebut akan menjadi sebuah ledakan supernova yang suatu saat akan menjadi lubang hitam dengan gaya gravitasi yang luar biasa masif. Proses kematian bintang alam semesta sudah terjadi sejak zaman purba dan ledakannya baru terlihat pada saat ini.

***

Itulah beberapa fakta sains mengenai kelahiran dan kematian dari bintang yang ada pada alam semesta. Semoga dapat menambah dan memperkaya wawasan Anda, ya!