Kategori
Sains

Peristiwa Langit Terbaik November 2020

Peristiwa Langit Terbaik November 2020

Peristiwa Langit Terbaik November 2020, – November 2020 ada sejumlah fenomena langit yang bisa dilihat. Tidak kalah dari fenomena aphelion Bumi Juli kemarin. Sebagai bocoran, nih, di bulan ini Anda akan menyaksikan empat hujan meteor lagi.

Dikutip http://downloadjoker123.org, Gak mau ketinggalan untuk menyaksikan peristiwa langit November 2020? Yuk, simak dan catat tanggalnya berikut ini!

1. Puncak hujan meteor Taurid Selatan pada 5 November 2020

Hujan meteor Taurid Selatan terjadi sejak 23 September hingga 19 November 2020. Namun puncaknya berada pada 5 November 2020. Di saat itu, Anda bisa menyaksikan sekitar 10 meteor yang melintas per jamnya.

Hujan meteor ini cukup unik karena bisa menghasilkan bola-bola api selama puncaknya. Titik muncul Taurid Selatan berada pada rasi bintang Taurus. Anda bisa mengamatinya di langit sebelah selatan mulai pukul 01.00 waktu daerahmu masing-masing.

2. Waktu terbaik mengamati Merkurius pada 10 November 2020

Walaupun cukup dekat, Merkurius adalah planet yang sulit untuk diamati dari Bumi. Sebab ukurannya sangat kecil. Namun pada 10 November 2020, planet ini berada pada titik tertinggi di langit pagi sehingga Anda bisa menemukannya dengan mudah.

Jika Anda tertarik untuk mencari Merkurius, Anda sebaiknya mulai mengamati langit sebelum Matahari terbit. Menghadaplah ke langit sebelah timur. Merkurius akan tampak seperti bintang yang terang dan tak berkelap-kelip.

3. Puncak hujan meteor Taurid Utara pada 12 November 2020

Setelah kedatangan hujan meteor Taurid Selatan, kini giliran Taurid Utara yang melintasi Bumi. Intensitas peristiwa ini sama juga seperti hujan meteor yang terjadi pada 5 November 2020. Anda bisa menyaksikan sekitar 10 meteor per jamnya.

Bedanya, Taurid Utara bisa diamati mulai pukul 18.30, saat rasi bintang Taurus terbit. Namun waktu terbaik untuk menyaksikannya adalah pukul 00.00 waktu daerahmu masing-masing. Taurid Utara akan berada di ketinggian langit utara.

4. Konjungsi Bulan dan Venus pada 13 November 2020

Sekitar satu jam sebelum Matahari terbit, sempatkanlah untuk keluar rumah sebentar. Anda akan melihat Bulan sabit berwarna silver yang ditemani oleh sang bintang kejora, Venus di sampingnya.

Peristiwa mendekatnya dua benda langit ini disebut sebagai konjungsi. Ketika ini terjadi, Venus dan Bulan hanya terpisahkan jarak sejauh 3 derajat. Keduanya semakin dekat ketika Matahari mulai menampakkan dirinya.

5. Puncak hujan meteor Leonid pada 17 November 2020

Semakin mendekati akhir tahun, semakin banyak hujan meteor yang bisa disaksikan. Hujan meteor ketiga bulan ini adalah Leonid yang puncaknya jatuh pada 17 November 2020. Tahun ini, peristiwa tersebut dapat disaksikan dengan sangat jelas karena Bulan tidak bersinar terang.

Leonid bisa disaksikan di Indonesia sekitar pukul 03.00 hingga 05.04 waktu daerahmu. Titik radian atau titik munculnya berada di rasi bintang Leo. Tetapi, untuk menemukannya, Anda perlu mengamati langit bagian timur laut. Akan ada 15 hingga 20 meteor per jamnya, lho. Jangan ketinggalan!

6. Waktu terbaik mengamati Pleiades pada 17 November 2020

Sambil menyelam minum air. Pada 17 November 2020, ada dua peristiwa yang bisa Anda amati sekaligus. Selain Leonid, Anda juga bisa menyaksikan Pleiades, gugus bintang paling terang yang bisa diamati dari Bumi.

Waktu terbaik untuk mengamatinya adalah setelah Matahari terbenam hingga Matahari terbit keesokan harinya. Dengan kata lain, Pleiades tampak bersinar terang sepanjang malam. Namun waktu yang paling disarankan untuk mengamatinya adalah saat tengah malam.

Untuk mencarinya, Anda perlu menghadap ke langit bagian utara. Pleiades tampak seperti sekelompok titik kecil yang bersinar terang dan berkelap-kelip.

7. Bulan, Jupiter, dan Saturnus membentuk formasi segitiga pada 19 November 2020

Bulan, Jupiter, dan Saturnus akan tampak berdekatan dengan satu sama lain pada 19 November 2020. Fenomena yang termasuk konjungsi ini akan membentuk formasi segitiga di angkasa. Jupiter dan Saturnus hanya terpisahkan jarak 2 derajat dari Bulan.

Anda bisa mengamati peristiwa yang satu ini setelah Matahari tenggelam. Menghadaplah ke arah barat. Di sana, akan ada Bulan sabit dan dua benda langit terang berwarna kuning yang merupakan Jupiter dan Saturnus.

8. Konjungsi Bulan dan Mars pada 26 November 2020

Setelah seminggu tanpa peristiwa langit apa pun, pada 26 November 2020, Anda akan melihat Bulan ditemani oleh Mars dalam peristiwa konjungsi lainnya. Di malam ini, keduanya hanya terpisahkan jarak sejauh 4 derajat.

Tengoklah ke langit sebelah barat untuk menyaksikannya. Waktu terbaik untuk mengamati konjungsi ini adalah pukul 02.00 waktu daerahmu. Mars akan tampak seperti “bintang” berwarna merah yang tidak berkelap-kelip.

9. Puncak hujan meteor Orionid pada 28 November 2020

Ini adalah peristiwa yang paling dinantikan sepanjang tahun. Hujan meteor Orionid akan terjadi pada 28 November 2020. Yang membuatnya dinantikan adalah intensitas hujan meteor ini cukup besar. Anda bisa melihat sekitar 20 meteor per jamnya, lho.

Bukan hanya itu, pengamatan Orionid bisa dibilang cukup mudah. Anda tak perlu menyiapkan alat apa pun karena peristiwa ini bisa diamati dengan mata telanjang.

Perlu diketahui bahwa titik radian atau titik muncul Orionid terletak di rasi bintang Orion. Anda bisa mencarinya di langit bagian barat. Sementara waktu terbaik untuk mengamatinya adalah sekitar 04.00 dini hari. Di saat itulah jumlah meteor yang melintas mencapai puncaknya.

10. Gerhana Bulan penumbra pada 30 November 2020

Untuk menutup penghujung November 2020, langit menyuguhkan gerhana Bulan penumbra. Peristiwa ini utamanya bisa disaksikan oleh warga yang berada di Indonesia Timur.

Perlu diketahui bahwa gerhana Bulan penumbra terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus. Namun Bulan tidak masuk sepenuhnya ke bayangan gelap atau umbra Bumi, seperti diagram di atas. Jadi, satelit Bumi itu akan tampak redup.

Waktu terbaik menyaksikannya adalah mulai pukul 14.33 hingga 16.44 WIB. Di saat ini, Bulan memang belum bisa disaksikan. Namun di Indonesia bagian timur, Bulan sudah terbit.

***

November ternyata merupakan waktu terbaik untuk menyaksikan berbagai peristiwa langit, ya. Banyak yang hanya terjadi setahun sekali, lho. Maka dari itu, catat tanggalnya dan pasang pengingat agar tak ketinggalan!

Kategori
Sains

Tingkatan Struktur dan Ruang Lingkup dalam Alam Semesta

Tingkatan Struktur dan Ruang Lingkup dalam Alam Semesta

Tingkatan Struktur dan Ruang Lingkup dalam Alam Semesta, – Alam semesta adalah seluruh ruang waktu kontinu tempat kita berada, dengan energi dan materi yang dimilikinya.

Bahkan, usaha untuk memahami pengertian alam semesta dalam lingkup ini pada skala terbesar yang memungkinkan, ada pada kosmologi, ilmu pengetahuan yang berkembang dari fisika dan astronomi.

Dikutip https://maxbetresmi.com, Ada beberapa tingkatan ruang lingkup dalam alam semesta, mulai dari objek-objek kecil hingga gugusan besar yang luasnya mustahil untuk dijelajahi. Nah, tentunya Anda penasaran dengan penjelasannya, bukan? Yuk, sama-sama belajar astronomi.

1. Objek angkasa

Tingkatan paling kecil di alam semesta tentu saja objek angkasa, seperti batuan angkasa, planet, bulan, bintang, dan lain sebagainya. Ada beberapa partikel mikroskopik yang bahkan keberadaannya selalu ada di sekitar kita seperti atom. Menurut laman NASA, objek angkasa seperti asteroid adalah objek yang banyak ditemukan di dalam sebuah gugusan tata surya.

2. Tata surya

Tata surya adalah kelompok atau gugusan terkecil yang ada di alam semesta. Dalam sebuah tata surya, ada beberapa objek angkasa seperti planet, bulan, bintang, batuan angkasa, dan mungkin objek angkasa lainnya yang masih terikat dengan gravitasi dari bintang terbesar.

3. Galaksi

Dalam sebuah galaksi, ada miliaran tata surya dan objek angkasa lainnya. Galaksi yang menampung tata surya kita dinamakan Galaksi Bimasakti atau Milky Way. Menurut National Geographic, bahkan sebuah galaksi bisa terdiri dari triliunan bintang yang disatukan dengan gravitasi.

4. Supergugus

Supergugus atau supercluster adalah gabungan dari tiga atau banyak galaksi. Memang, sulit membayangkan betapa luas dan masifnya supergugus itu. Sebuah galaksi saja mampu menampung ratusan triliun bintang, apalagi supergugus yang jelas memiliki ukuran lebih besar ketimbang galaksi.

5. Alam semesta

Gambar titik-titik di atas merupakan cahaya dari galaksi yang ada di alam semesta kita. Jadi, dengan kata lain, struktur atau ruang lingkup terbesar di alam semesta adalah alam semesta itu sendiri. Tidak diketahui dengan pasti berapa jumlah galaksi yang ada di alam semesta kita.

***

Itulah tingkatan struktur dan ruang lingkup yang ada di alam semesta. Bagaimana? Sulit dibayangkan seberapa luas alam semesta itu, bukan?

Kategori
Sains

Ada yang Tau Kapan Alien Ditemukan?

Ada yang Tau Kapan Alien Ditemukan?

Ada yang Tau Kapan Alien Ditemukan? – Manusia sejak zaman dahulu sudah bertanya-tanya apakah mereka sendirian di alam semesta ataukah ada makhluk lain di luar sana alias alien?

Lembaga antariksa NASA tentu adalah pelaku utamanya, berbekal anggaran melimpah dari pemerintah Amerika Serikat. Pada tahun 2018, NASA meluncurkan teleskop Transit Exoplanet Survey Satellite (TESS) yang proyeknya bernilai sekitar USD 337 juta, atau sekitar Rp 5 triliun dengan salah satu misi utamanya berburu alien.

Dikutip http://downloadjoker123.org, Selama observasinya tersebut, ia akan fokus untuk mencari planet baru di antara 200.000 bintang di angkasa, dengan perkiraan dapat mengidentifikasi 1.600 exoplanet anyar yang beberapa akan seukuran dengan Bumi.

Ada lagi misi ambisius lain yang tengah dilancarkan NASA untuk mencari tanda-tanda kehidupan, terkhusus di planet Mars. Belum lama ini, NASA telah melesatkan misi ambisius ke Planet Mars, mendaratkan rover canggih bernama Perseverance.

Kecanggihannya bisa tergambar antara lain karena Perseverance membawa helikopter bernama Ingeunity. Ketika Perseverance mencapai lokasi yang sesuai di Mars, helikopter Ingenuity akan dikerahkan dan menjadi rotorcraft pertama yang terbang di planet selain Bumi.

Perseverance akan menjadi misi antar planet pertama yang mengambil sampel bebatuan dan debu Mars untuk dibawa pulang. Jadi bisa saja dari misi ini, akan ada bukti pertama bahwa Mars pernah dihuni makhluk hidup.

“Perseverance menancapkan tonggak untuk ambisi kami di Mars. Kita akan berada paling dekat dari sebelumnya untuk menjawab pertanyaan lama dari sains tentang Planet Merah itu, termasuk apakah pernah ada kehidupan muncul di sana,” kata Lori Glaze, direktur ilmu planet NASA.

NASA harus mengeluarkan ongkos diperkirakan USD 2,4 miliar atau di kisaran Rp 35 triliun untuk menggelar misi ini. Sebagai perbandingan, misi Hope ke Planet Mars oleh Uni Emirat Arab yang diluncurkan baru-baru ini ‘hanya’ menghabiskan anggaran USD 200 juta.

Beberapa ilmuwan meyakini misi pencarian alien akan suksess. Hal itu antara lain dikemukakan oleh Dr Garik Israelan, pakar astrofisika terkemuka dan pendiri Starmus Festival, event rutin yang dihadiri para ilmuwan antariksa. Ia menyebut alien pintar akan dijumpai dalam beberapa dekade ini dan akan mengguncang umat manusia.

“Setidaknya, kita akan menemukan bukti kehidupan yang jelas yang datang dari kehidupan pintar. Ini adalah jenis penemuan yang akan mengguncang umat manusia,” kata dia, seperti dikutip detikINET dari Mirror.

“Hal itu akan cukup menarik bagi sains, tapi saya pikir akan membuat kita menyadari bahwa kehidupan merupakan sesuatu yang luar biasa, jadi kita sebaiknya memperhatikan apa yang kita lakukan pada planet kita,” imbuh dia.

“Perseverance punya 10% peluang untuk menemukan mikroba di planet Mars. Ini memang murni spekulasi. Tapi itu sungguh adalah angka peluang yang bagus,” kata Garik.

Tapi jangan terlalu bergembira lantaran proyek besar yang ditujukan mencari alien sejauh ini belum berhasil. Tahun silam, dibuka laporan proyek Breakthrough Listen, di mana ilmuwan mengamati 1.327 bintang dalam jarak sampai 160 tahun cahaya dari Bumi. Ini adalah pencarian alien paling heboh yang pernah dilakukan. Sayangnya, tidak ada bukti peradaban alien.

“Senyap di luar sana,” kata Danny Price, astronom di University of California, Berkeley yang jadi anggota tim peneliti. Tujuan tim ini adalah mencari sinyal radio dan optik dari sejuta bintang terdekat, seluruh planet di galaksi Bima Sakti, dan galaksi-galaksi lainnya.

“Kami belum menemukan apapun, tapi tentu saja tidak akan kehilangan harapan. Masih ada begitu banyak bintang untuk dilihat dan pendekatan penelitian lain,” sebut Danny.

Penelitian terbaru yang dilakukan astronom mengamati lebih dari 10 juta bintang di langit untuk mencari tanda-tanda teknologi alien. Sayangnya penelitian ini juga sama-sama belum menemukan bukti yang signifikan.

Setelah mendengarkan kawasan Vela selama 17 jam, tidak ada sinyal aneh yang dideteksi. Meski survei ini berhasil mendeteksi lebih dari 10,3 juta sumber bintang yang berisi enam exoplanet. Tim peneliti mengatakan studi ini seperti ingin mencari sesuatu di lautan. Tapi hanya meneliti volume air yang setara dengan kolam renang.

Jadi intinya, kesabaran masih diperlukan untuk mencari tanda-tanda alien. Bagaimanapun, alam semesta begitu luasnya sehingga mungkin alien masih menunggu untuk ditemukan.

Kategori
Sains

Partikel Terkecil yang Ada di Alam Semesta

Partikel Terkecil yang Ada di Alam Semesta

Partikel Terkecil yang Ada di Alam Semesta, – Pada topik kali ini Bicara akan membahas objek paling kecil di Alam Semesta, Tapi bukan hanya objek objek langit saja ya guys, ada juga objek objek lain yang menurut penelitian bicara merupakan objek terkecil yang ada di alam semesta,

Inilah objek atau partikel terkecil yang ada di alam semesta. Apa saja, ya? Yuk, disimak!

1. Elektron

Gambar di atas adalah penampakan dari bagian molekul atom yang dilihat melalui mikroskop atom. Salah satu bagian atau penyusun dasar dari atom adalah elektron. Dilansir https://maxbetresmi.com, Penelitian mengenai elektron pertama kali dilakukan oleh ilmuwan Inggris bernama Joseph John Thompson pada 1897.

Dari studi dan penelitian yang dilakukan oleh Thompson, dapat disimpulkan bahwa elektron merupakan salah satu partikel yang menjadi komponen dasar penyusun atom. Ilmuwan dari West Texas A&M University, Dr. Christoper S. Baird, menyatakan bahwa elektron merupakan salah satu partikel kecil yang bersifat fleksibel. Artinya, ia bisa bergerak dan bisa juga diam tergantung pada kondisinya.

2. Proton

Supaya kamu gak bingung dengan istilah proton, anggap saja proton adalah pesaing dari elektron. Kalau elektron lebih bersifat bad boy, proton lebih condong menjadi good boy. Ya, proton merupakan partikel subatomik yang juga bekerja sebagai partikel pembentuk atom. Jadi, pada posisi terluar bagian atom, ada sebuah orbital yang dikuasai oleh dua buah elektron. Nah, lebih ke dalam lagi, ada partikel proton yang menguasai “wilayah” ini.

Bedanya adalah pada massa kedua jenis partikel tersebut. Massa dari proton lebih besar ketimbang massa elektron. Dicatat dalam laman britannica.com, proton dapat diartikan juga sebagai partikel bermuatan positif yang memiliki sifat stabil alias tidak meloncat atau bergerak bebas layaknya elektron.

3. Neutron

Neutron adalah partikel kecil pembentuk dasar atom yang berada di tengah atau inti atom. Massanya sedikit lebih besar dibanding dengan massa proton. Oh ya, pertikel neutron juga merupakan partikel yang bersifat netral, dicatat dalam Science and Technology Facilities Council.

Keberadaan neutron sangat berguna bagi ilmu pengetahuan seperti medis, biomolekuler, ilmu pangan, pembuatan obat-obatan, dan juga ilmu kimia. Biasanya, para ilmuwan akan melakukan studi dan penelitian mendalam mengenai neutron untuk dihubungkan dengan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia.

4. Atom

Nah, kalau kamu sudah sedikit memahami mengenai tiga partikel dasar penyusun atom (elektron, proton, dan neutron), kamu bisa melihat gambar diagram atom di atas. Bagaimana? Sudah dapat dibayangkan apa atom itu? Ya, secara mendasar, atom merupakan partikel kecil di alam semesta yang terdiri dari tiga partikel penyusun seperti yang sudah dijelaskan di atas.

Kamu bisa lihat bagaimana ketiganya secara konstan dan berkesinambungan dalam melakukan tugasnya masing-masing agar atom tetap stabil dan tidak melawan hukum alam. Science Daily dalam lamannya menjelaskan bahwa atom sangat erat kaitannya dengan pembentukan awal mula alam semesta.

5. Quark

Quark atau kuark adalah partikel yang lebih kecil dari unsur penyusun atom. Dengan kata lain, quark merupakan partikel kecil penyusun dari partikel proton dan neutron.

Quark juga memiliki lawan, yakni antiquark. Secara umum, partikel superkecil ini juga selalu dalam kedaan terkurung dalam sebuah partikel subatom, misalnya proton atau neutron. Beberapa ilmuwan meyakini bahwa karakter quark secara langsung juga memengaruhi sifat-sifat dari proton dan neutron dalam sebuah sel atom.

6. Partikel Tuhan

Partikel Tuhan atau God Particle adalah sebuah partikel yang sangat kecil namun memiliki kekuatan sangat dahsyat. Saking masifnya, hanya dibutuhkan God Particle sebesar ukuran bola sepak untuk menghancurkan sebuah planet atau bintang di alam semesta.

Ilmuwan dan para akademisi menganggap bahwa partikel kecil ini juga bertanggung jawab terhadap massa sebuah objek. Nah, kalau ia sudah bertanggung jawab terhadap massa, maka sejatinya ia adalah sumber dari gravitasi itu sendiri. Karena pengaruhnya yang dinilai sangat besar di alam semesta, penemuan Partikel Tuhan dianggap sebagai sebuah keajaiban dalam sains.

***

Itulah beberapa objek atau partikel terkecil yang ada di alam semesta. Semoga artikel kali ini dapat menambah wawasanmu di bidang fisika dan astronomi, ya!

Kategori
Sains

Kejadian Aneh di Luar Angkasa

Kejadian Aneh di Luar Angkasa

Kejadian Aneh di Luar Angkasa, – Di dalam alam semesta, masih banyak fakta maupun hal aneh yang mungkin kita tidak ketahui hingga menjadikannya sebuah misteri, termasuk objek-objek aneh di luar angkasa.

Namun, saat menghabiskan waktu di luar angkasa inilah, hal-hal aneh bisa terjadi. Berdasarkan kesaksian para angkasawan/wati yang telah menghabiskan beberapa waktunya di luar angkasa, inilah kejadian aneh bin ajaib yang masih menjadi tanda tanya di benak mereka.

1. Siapa yang mengetuk kapsul Yang Liwei?!

Pada 2003, Yang Liwei menjadi astronaut pertama dari Tiongkok yang diberangkatkan oleh Badan Administrasi Antariksa Nasional Tiongkok (CNSA). Menakjubkan, bukan?

Pengalaman yang menakjubkan tersebut tiba-tiba berubah mencekam! Berdiam di kapsul yang sempit dan dikelilingi oleh kehampaan luar angkasa, tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kapsul!

2. Bola hijau misterius mengejar Gordon Cooper

Dikutip http://downloadjoker123.org, Saat mengelilingi Bumi sebanyak 22 orbit pada 1963, astronaut AS, Gordon Cooper, memberi tahu stasiun antariksa di Muchea, Australia, bahwa ada objek berupa bola berwarna hijau yang menghampiri kapsulnya. Bahkan, stasiun Muchea pun menangkap keberadaan objek hijau tersebut lewat radarnya.

3. Vladimir Kovalyonok melihat UFO meledak

Sebelum pensiun pada 1984, Mayjen. Vladimir Kovalyonok adalah salah satu awak di stasiun luar angkasa Rusia, Salyut VI pada 1981. Selama 217 hari menetap di luar angkasa, ia sempat melihat UFO!

Naas, sebelum diabadikan, UFO tersebut meledak! Setelah meledak, Kovalyonok mengatakan UFO tersebut terpecah menjadi dua bagian yang serupa dengan barbel. Kaget, ia langsung melaporkannya ke stasiun antariksa di Bumi.

4. Belut antariksa Franklin Story Musgrave

Terkenal sebagai astronaut dengan 6 gelar pendidikan, Franklin Story Musgrave, mengatakan bahwa saat ia berada di luar angkasa, ia melihat sebuah “selang” seperti belut yang tengah terbang. Bukan cuma sekali, ia melihatnya hingga dua kali di dua kesempatan berbeda!

5. Penampakan UFO tertangkap kosmonaut di Mir

Saat tengah menjalani misi antariksa di stasiun luar angkasa Rusia, Mir, pada 1991, kosmonaut Musa Manarov beruntung dan berhasil merekam penampakan UFO yang tengah terbang di kegelapan luar angkasa!

Terbang menjauhi Mir, Manarov mengatakan tak ada bagian yang lepas dari stasiun luar angkasa tersebut dan ragu kalau benda tersebut adalah sampah luar angkasa.

6. Cahaya yang terbang sangat cepat

Saat tahun terakhirnya di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada 2005, Leroy Chiao menjadi saksi saat sebuah cahaya aneh meluncur melewatinya saat tengah mengerjakan sesuatu di ISS.

“Saya melihat barisan cahaya yang menyerupai tanda centang terbalik terbang melewati saya. Sangat aneh,” kata Chiao kepada The Huffington Post pada 2014.

7. Kobaran api yang tidak menyala di luar angkasa

Sekadar penjelasan, api berkobar setelah gas panas menarik oksigen. Jadi, tanpa oksigen, harusnya api tidak menyala bukan?

Ternyata, manusia masih perlu waktu untuk memahami cara kerja alam di luar angkasa. Pada 2009 – 2012, astronaut NASA melangsungkan percobaan menyalakan api di ISS dalam projek bertajuk “FLame Extinguishment Experiment (FLEX)”.

“Di luar angkasa, difusi molekul menarik oksigen ke nyala api dan pembakaran menjauh dari nyala api dengan kecepatan 100 kali lebih lambat daripada aliran apung di Bumi,” papar Dan Dietrich, ilmuwan proyek FLEX di Pusat Penelitian Glenn NASA di Ohio.

8. Lampu diskotik luar angkasa

Saat misi Apollo 11 pada 1969, para astronaut AS melihat lampu berkilauan dengan mata kepala mereka sendiri! Astronaut di proyek Apollo 12 dan 13 diperingatkan soal hal tersebut dan mereka pun mengalaminya.

Malah, mereka bisa tetap melihat cahaya tersebut dengan mata terpejam! Akhirnya, NASA pun melakukan penelitian mengenai penglihatan tersebut selama dua tahun lewat 4 misi Apollo 14 – 17.

9. Christopher Cassidy melihat UFO

Saat tengah berada di ISS pada 2013, astronaut Christopher Cassidy melihat sesosok UFO melintas! Tak tinggal diam, Cassidy langsung menghubungi pusat kendali di Bumi untuk melaporkan penampakan tersebut.

Setelah melihat video tersebut, NASA mengatakan bahwa yang Cassidy lihat adalah selimut modul ISS dari Rusia, Zvezda. Namun, apakah betul begitu?

10. Kunang-kunang luar angkasa

Menerbangkan wahana antariksa Friendship 7 dalam misi Mercury-Atlas pada 1962, astronaut AS, John Glenn, melihat hal aneh lewat jendelanya. Percaya atau tidak, Glenn juga melihat cahaya-cahaya kecil yang terlihat seperti “kunang-kunang”.

Butuh setidaknya setahun bagi NASA untuk mengetahui “kunang-kunang tersebut”, yang mereka kira adalah kerusakan sistem pada wahana Glenn.

Ternyata, kunang-kunang tersebut adalah tetesan air yang membeku dan pecah dari jendela Glenn mengikuti pergerakan Friendship 7.

***

Apakah ada kehidupan dan makhluk lain di luar Bumi? Masih menjadi rahasia yang perlu dicari tahu!

Kategori
Sains

Planet Kerdil yang Tinggal di Tata Surya

Planet Kerdil yang Tinggal di Tata Surya

Planet Kerdil yang Tinggal di Tata Surya, – Planet kerdil selain Pluto memang benar-benar ada. Hal ini memang sudah diteliti sejak dulu. Ternyata beberapa planet kerdil tersebut berada di kawasan tata surya Bima Sakti. Penemuan ini pun tidak hanya berjumlah satu, kurang lebih ada 5 planet.

Tapi Anda tenang aja, meski sudah turun pangkat, Pluto enggak akan pernah kesepian kok! Selain Pluto, Tata Surya kita juga memiliki beberapa benda langit yang juga dikategorikan sebagai planet kerdil, apa aja?

1. Ceres

Dikutip http://poker88asia.info, Kebanyakan dari kita mungkin mengenal Ceres sebagai asteroid di Tata Surya. Tapi tahukah Anda , kalau Ceres juga memiliki pangkat dobel sebagai planet kerdil? Dibandingkan dengan Pluto yang berada jauh dibelakang, Ceres merupakan planet kerdil terdekat dari Bumi.

Ceres sendiri tinggal di sabuk asteroid yang ada diantara Mars dan Jupiter yang hanya berjarak sekitar 414 juta km dari matahari. Dan berbeda dari tetangga asteroid lainnya, Ceres memiliki bentuk hampir bulat layaknya planet. Namun untuk ukuran, Ceres hanya memiliki diameter 950 km dan massa 0,015 persen dari massa Bumi.

Karena ukurannya itu, para ahli kemudian sepakat menjadikan Ceres sebagai planet kerdil untuk menemani Pluto.

2. Eris

Kalau ada yang bertanya, siapa biang kerok dalam penurunan pangkat Pluto, maka Eris adalah jawabannya. Eris ditemukan pada tahun 2005, dan memiliki ukuran sekitar 2.300 sampai 2.400 km atau 27 persen lebih besar dari Pluto. Bukan hanya itu, Eris juga memiliki satelit alami yang bernama Dysmonia.

Dengan penemuan ini, para astronom terpaksa memilih satu di antara dua pilihan. Pertama menjadikan Eris sebagai planet kesepuluh, dan yang kedua meninjau ulang status Pluto. Pada akhirnya, para astronom lebih memilih mengorbankan Pluto dengan menjadikannya planet kerdil bersama Eris.

Pilihan ini diambil karena planet kerdil Eris memiliki orbit yang tidak menentu. Orbit Eris memang lebih besar dari Pluto, bahkan Eris membutuhkan 557 tahun untuk memutari matahari. Tapi di sisi lain, orbitnya juga memotong orbit Pluto bahkan Neptunus.

3. Pluto

Seperti yang Anda tahu, Pluto ditemukan oleh seorang gadis berusia 11 tahun, bernama Venetia Burney tahun 1930. Awalnya Pluto merupakan planet, tapi pada Agustus 2006, statusnya diturunkan jadi planet kerdil. Meski statusnya sudah turun, tapi jangan salah, Pluto juga memiliki satelit yang mengitarinya.

Bukan satu, melainkan lima satelit yaitu Charon, Nix, Hydra, Styx, dan Kerberos. Dengan diameter sekitar 2.370 km dan jarak 5,9 miliar km, dulu Pluto merupakan planet terkecil dan terjauh dari matahari. Saking jauhnya, cahaya matahari bahkan membutuhkan waktu 5,5 jam untuk bisa sampai ke Pluto.

4. Makemake

Ceres bukan satu-satunya planet kerdil yang tinggal di sabuk Kuiper. Selain Ceres, planet kerdil Makemake juga tinggal di perbatasan Jupiter dan Mars. Makemake pertama kali ditemukan pada 31 Maret 2005 lalu. Yang unik dari planet kerdil satu ini adalah namanya.

Beda dengan kebiasaan para astronom yang menggunakan nama para dewa Romawi atau Yunani Kuno, nama Makemake sendiri diambil dari nama dewa kesuburan dalam kepercayaan suku Rapa Nui yang merupakan suku asli pulau Paskah.

Faktanya, Makemake memang ditemukan beberapa hari setelah Paskah yang membuatnya cocok dengan nama tersebut.

5. Haumea

Setelah Ceres, Eris, Pluto, dan Makemake, kita juga memiliki Haumea yang menjadi planet kerdil kelima sekaligus planet kerdil terakhir di Tata Surya. Haumea pertama kali ditemukan tahun 2003 lalu di sabuk Kuiper bersama dengan dua satelit alaminya, namun statusnya sebagai planet kerdil baru diresmikan pada tahun 2008 lalu.

Berbeda dengan planet kerdil lain di Tata Surya, Haumea tidak berbentuk bulat atau hampir bulat seperti Ceres. Alih-alih bulat, planet kerdil ini memiliki bentuk seperti cerutu. Selain itu Haumea juga merupakan salah satu benda langit besar yang berputar paling cepat di Tata Surya kita.

Tata Surya kita bukan hanya dihuni oleh matahari dan planet-planet besar, melainkan juga benda langit lainnya, termasuk planet kerdil. Planet kerdil sendiri adalah benda langit yang berputar mengelilingi matahari, memiliki gravitasinya sendiri, namun bukan satelit dari planet lain.

Kategori
Sains

Fakta Sains tentang Kelahiran dan Kematian Bintang

Fakta Sains tentang Kelahiran dan Kematian Bintang

Fakta Sains tentang Kelahiran dan Kematian Bintang, – Analisa baru pada isotop besi dalam meteorit yang dilakukan ilmuwan baru-baru ini mengungkap bagaimana kelahiran Bumi di tata surya ini. Pada masa-masa awal tata surya, ternyata bayi Bumi membutuhkan waktu yang jauh lebih singkat untuk terbentuk.

Nah, salah satu objek alam semesta yang sangat unik dan bisa kita pelajari adalah bintang. Apa itu bintang? Bagaimana proses kelahiran dan kematian bintang di alam semesta?

Yuk, kita sama-sama belajar mengenai bintang, objek angkasa yang berkelap-kelip.

1. Apa itu bintang?

Dilansir https://christian-mommies.com, Seperti dicatat dalam laman NASA, bintang dapat diartikan sebagai objek astronomi yang mewakili elemen penyusun dasar dari berbagai gugusan semesta seperti tata surya dan galaksi. Karena sifatnya sebagai penyusun gugusan semesta, bintang juga berjumlah sangat banyak dengan berbagai macam ukuran, sifat, jenis, dan karakternya.

Bintang terbesar dalam tata surya kita adalah Matahari. Karena ukurannya yang cukup masif, hal tersebut cukup untuk membentuk massa dan kekuatan gravitasi untuk menjaga planet-planet di sekitarnya supaya tetap bergerak mengelilingi Matahari secara teratur.

Jika dinilai dari segi ukurannya, ada banyak bintang di alam semesta yang memiliki ukuran jauh lebih besar ketimbang Matahari.

Sifat dan karakter bintang sangat berbeda dengan planet, meskipun terkadang masih ada banyak orang yang menyamakan keduanya.

Perbedaan mendasarnya adalah pada kemampuan objek dalam memancarkan cahaya, seperti diulas dalam National Geographic. Bintang adalah objek angkasa yang dapat memancarkan cahayanya sendiri, sedangkan planet tidak.

Jika dilihat dari Bumi di malam hari, bintang dan planet juga memiliki ciri khas yang berbeda namun agak mirip. Bintang, jika dilihat di malam hari, cahayanya akan terlihat berkelap-kelip.

Sedangkan, cahaya planet akan terlihat statis (tidak berkelip) dan kabur. Nah, rupanya planet dapat memantulkan cahaya dari cahaya bintang di sekitarnya, misalnya Matahari.

Tidak diketahui ada berapa banyak jumlah bintang di alam semesta. Kemungkinan jumlahnya memang mustahil untuk dihitung mengingat luas alam semesta yang nyaris tanpa batas.

Bahkan, ilmuwan dan akademisi menganggap bahwa jumlah bintang bisa mendominasi di alam semesta, jauh lebih banyak ketimbang planet dan objek semesta lainnya.

2. Proses kelahiran bintang

Bintang yang ada di alam semesta mengawali hidupnya dengan proses kelahiran. Bagaimana sebuah bintang dilahirkan? Kelahiran sebuah bintang melibatkan reaksi fusi, yakni reaksi yang melibatkan atom-atom di bawah tekanan tertentu yang menyebabkan nukleusnya mengalami reaksi dahsyat.

Dengan kata lain, kelahiran bintang melibatkan sebuah reaksi termonuklir di bagian inti calon bintang. Meskipun ada reaksi dari partikel-partikel lainnya, namun jika tidak cukup kuat untuk membentuk reaksi fusi atau termonuklir, maka bintang tak akan terbentuk. Itu sebabnya gaya gravitasi menjadi kunci dari pembentukan bintang.

Gaya gravitasi akan menekan partikel atom dalam gumpalan gas sampai reaksi fusi terbentuk. Jika gravitasi cukup kuat untuk menekan gaya dari dalam dan luar secara seimbang, maka pembentukan bintang akan tetap stabil. Nah, dari mana partikel-pertikel pembentuk bintang berasal? Partikel tersebut berasal dari awan nebula.

Awan nebula merupakan kumpulan gas yang sangat masif dan berjarak beberapa tahun cahaya. Partikel-partikel dalam awan nebula dapat membentuk banyak bintang jika gaya gravitasi cukup untuk membentuk reaksi fusi atau termonuklir. Nah, Anda sudah paham bagaimana bintang itu terbentuk, ‘kan?

3. Berapa usia bintang?

Bintang di alam semesta bisa berusia sangat lama. Bahkan, ada banyak bintang purba yang usianya sangat tua nyaris menyamai usia alam semesta itu sendiri. Kebanyakan bintang di alam semesta berusia 1 – 10 miliar tahun dan banyak di antara mereka yang sudah mulai memasuki fase akhir dari kehidupannya.

Ada sedikit bintang yang usianya menyamai alam semesta, yakni lebih dari 13 miliar tahun. Bagaimana usia bintang didapatkan? Ditulis dalam Scientific American, para ilmuwan dan ahli astronomi dapat mengukur usia sekelompok bintang dalam sebuah gugusan tertentu. Mengukur usia sekelompok bintang jauh lebih mudah ketimbang mengukur usia satu buah bintang.

Hal tersebut dimungkinkan karena sekelompok bintang yang terdapat dalam sebuah gugusan yang sama biasanya memiliki usia yang sama pula. Dengan data, analisa, dan pengamatan sebuah bintang melalui teleskop luar angkasa, didapatkan angka-angka matematis untuk menyimpulkan berapa kira-kira usia kelompok bintang yang sedang diamati tersebut.

Bahkan, dengan teknologi penghitungan yang lebih baik, ilmuwan dapat memperoleh data dan diagram mengenai keberadaan bintang-bintang yang ada pada gugusan klaster tertentu. Data dan diagram tersebut didapatkan dari teleskop luar angkasa Hubble yang selama ini sudah sering digunakan untuk menangkap objek jauh di alam semesta.

4. Ada bintang yang usianya lebih tua ketimbang usia alam semesta. Benarkah?

Konon katanya ada sebuah bintang besar yang usianya lebih tua dari alam semesta itu sendiri. Bintang tersebut bernama Methuselah atau HD 140283. Nama Methuselah sendiri diambil dari Alkitab dan dianggap sebagai salah satu tokoh dengan usia terpanjang di Bumi, yakni 969 tahun.

Bintang Methuselah berada di Konstelasi Libra dan berjarak sekitar 190 tahun cahaya dari Bumi, seperti dicatat dalam laman Space. Pada tahun 2000 lalu, beberapa ilmuwan dan akademisi meneliti mengenai bintang tersebut menggunakan satelit Hipparcos milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Hasilnya sungguh mengejutkan karena bintang yang diamati tersebut memiliki usia 16 miliar tahun.

Bagaimana mungkin sebuah bintang besar dapat memiliki usia yang jauh lebih tua ketimbang alam semesta itu sendiri? Jika usia alam semesta adalah 13,8 miliar tahun, itu berarti ada selisih sebesar 2,2 miliar tahun dengan bintang Methuselah. Beberapa ilmuwan lainnya menyatakan bahwa selisih usia yang begitu jauh harus dihitung ulang karena tidak mungkin ada bintang yang jauh lebih tua dibanding dengan alam semesta.

Apalagi bintang tersebut juga mengandung helium, hidrogen, dan zat besi yang seharusnya partikel-partikel tersebut baru ada setelah alam semesta terbentuk. Beberapa ilmuwan mengatakan bahwa salah satu ketidakpastian penghitungan yang dilakukan di masa lalu ada pada letak dan jarak presisi dari bintang tersebut.

Selain itu, reaksi nuklir dan fusi yang terjadi pada bintang Methuselah di masa lalu juga kemungkinan tidak dihitung secara tepat. Penghitungan reaksi fusi yang terjadi pada bintang di masa lalu sangat penting untuk dipelajari guna mendapatkan patokan usia yang sesungguhnya. Studi terbaru menyatakan bahwa usia bintang Methuselah adalah 14 miliar tahun.

Bagaimanapun usia bintang Methuselah masih cukup terpaut jauh dengan usia alam semesta. Tapi ilmuwan tetap yakin bahwa usia yang sesungguhnya adalah sama dengan alam semesta itu sendiri dan adanya selisih usia dalam rentang yang cukup jauh bisa diakibatkan oleh ketidakakuratan data.

5. Proses kematian bintang

Bagaimana proses kematian dari bintang? Bintang dapat mati jika sudah kehabisan bahan bakar nuklirnya. Biasanya, bintang dengan massa yang sangat besar akan menghabiskan bahan bakarnya dengan cepat. Begitu bahan bakarnya habis, bintang tersebut meledak menjadi supernova.

Setelah bintang meledak menjadi ledakan supernova, zona tersebut akan ada sisa-sisa dari bintang hancur tersebut yang bernama bintang neutron (inti bintang yang runtuh). Jika massanya cukup besar, biasanya bintang mati akan membentuk sebuah black hole atau lubang hitam.

Itu sebabnya, lubang hitam memiliki gaya gravitasi yang sangat kuat dan bahkan dapat mengisap cahaya. Bintang-bintang yang hanya berukuran Matahari biasanya hanya menjalani proses kematian yang biasa saja. Biasanya, bintang mati dengan ukuran kecil akan menjadi sebuah raksasa merah, yakni hasil dari penggabungan helium pada inti bintang. Inti dari bintang mati ukuran kecil akan tetap sebagai katai putih yang dapat bertahan miliaran tahun atau mungkin selamanya.

Namun, jika bintang mati tersebut memiliki ukuran massa puluhan atau bahkan jutaan kali Matahari, maka bintang tersebut akan menjadi sebuah ledakan supernova yang suatu saat akan menjadi lubang hitam dengan gaya gravitasi yang luar biasa masif. Proses kematian bintang alam semesta sudah terjadi sejak zaman purba dan ledakannya baru terlihat pada saat ini.

***

Itulah beberapa fakta sains mengenai kelahiran dan kematian dari bintang yang ada pada alam semesta. Semoga dapat menambah dan memperkaya wawasan Anda, ya!

Kategori
Sains

Jika Asteroid Menghantam Bumi Manusia Bisa Selamat?

Jika Asteroid Menghantam Bumi Manusia Bisa Selamat?

Jika Asteroid Menghantam Bumi Manusia Bisa Selamat? – Film-film fiksi ilmiah tentang asteroid yang bertabrakan dengan Bumi memang mengesankan.

Berbagai berita tentang asteroid yang nyaris mendekati Bumi kita juga selalu membuat penasaran. Apa yang sebenarnya terjadi jika asteroid menabrak Bumi?

Dilansir https://christian-mommies.com, Kira-kira apa yang akan terjadi pada kehidupan kita jika Bumi ditabrak oleh asteroid besar? Bisakah kita selamat? Berikut ini gambarannya menurut sains!

1. Salah satu asteroid terbesar di tata surya berdiameter 939 kilometer

Asteroid, benda langit yang disebut sebagai planet minor ini memiliki besar dan berat yang beragam. Biasanya sebuah batuan langit bisa disebut asteroid jika mereka memiliki diameter minimal 1 meter. Sementara yang terbesar bisa mencapai 939 kilometer. Ialah Ceres yang berada di sabuk asteroid tata surya.

Jika asteroid berukuran kecil memasuki atmosfer, dampak yang mereka berikan tidaklah besar. Sebab batuan tersebut akan terbakar di udara dan tampak seperti meteor dari Bumi. Namun bagaimana dengan asteroid yang berukuran besar?

2. Hantaman asteroid bisa menghasilkan ledakan seperti bom atom

Salah satu asteroid besar yang berada di dekat Bumi adalah 1997XF11. Ia berukuran sekitar 700 meter hingga 1,4 kilometer. Jaraknya pun tak jauh, yaitu sekitar 930 ribu kilometer dari planet kita. Banyak ilmuwan yang memprediksi bahwa asteroid ini akan melintas dekat pada tahun 2028 mendatang dengan kecepatan 48.300 kilometer per jam.

Mari kita berandai-andai, apa yang sekiranya akan terjadi jika 1997XF11 menghantam Bumi? Ada beberapa skenario yang mungkin terjadi. Pertama, ketika asteroid tersebut terpecah berkeping-keping saat bergesekan dengan atmosfer.

Jika hal ini yang terjadi, satu keping dari 1997XF11 diprediksi berukuran sekitar satu rumah (3-5 meter) saat mendarat di daratan. Dengan kecepatannya, puing asteroid ini bisa menghasilkan ledakan berkekuatan 20 kiloton. Ini setara dengan bom atom yang dijatuhkan di Hiroshima pada 1945.

Semua bangunan yang berada dalam radius 800 meter pasti akan hancur. Makhluk hidup yang ada di sekitarnya kemungkinan besar akan mati. Tak hanya itu, Semua benda berbahan kayu dalam radius 2,4 kilometer juga akan hangus tak bersisa.

3. Hantaman asteroid yang setara bom nuklir akan membuat satu wilayah menjadi kota mati

Lalu bagaimana jika puing asteroid yang sampai ke Bumi lebih besar dari itu? Misalnya 60 meter atau lebih. Tentu kerusakan yang dihasilkan jauh lebih besar.

Menurut laporan laman How Stuff Works, asteroid sebesar itu mampu menghasilkan ledakan berkekuatan 25 hingga 50 megaton. Ini setara dengan ledakan bom nuklir, lho.

Seluruh wilayah yang terkena hantaman tersebut pasti akan hancur dan berubah menjadi kota mati seperti Chernobyl. Untungnya, tidak ada zat toksin yang dibawa oleh asteroid. Namun kerusakan akan sulit diperbaiki karena tekstur tanah tak lagi sama dengan sebelumnya.

4. Jika asteroid yang jatuh berukuran 1 kilometer, ledakannya bisa 10 juta kali lipat bom atom

Sekarang kita sampai ke kemungkinan paling buruk, yaitu ketika asteroid tidak terpecah saat sampai di daratan. Benda langit berukuran kurang lebih 1 kilometer tersebut mampu menghasilkan ledakan yang mencapai 1 juta megaton.

Ledakan 10 juta kali lebih kuat daripada bom atom tersebut mampu membumihanguskan wilayah hingga 300 kilometer dari titik radius. Jadi, jika asteroid jatuh di Jakarta, setidaknya seluruh wilayah Jawa Barat hingga sebagian Jawa Tengah hancur karenanya.

Tak perlu tanya bagaimana nasib manusia. Jelas, kemungkinan besar seluruh makhluk hidup yang berada di radius tersebut mati atau terkena cedera berat akibat ledakan yang sungguh hebat.

Bukan hanya itu, wilayah yang terkena hantaman asteroid juga akan menjadi kawah sehingga sulit untuk mengembalikannya ke kondisi semula.

5. Tak menghancurkan dunia, namun dampaknya bisa dirasakan lintas negara

Walaupun tidak sampai menghancurkan seisi dunia, dampak dari jatuhnya asteroid cukup besar, lho. Debu yang ditimbulkannya bisa menutupi atmosfer sehingga langit di area sekitar dan negara tetangga menjadi gelap.

Angin yang ditimbulkan oleh ledakan juga bisa dirasakan oleh area yang berada di sekitar ledakan. Angin tersebut juga membawa debu, pecahan kaca, pasir, dan batuan yang berbahaya untuk pernapasan.

Ancaman lain dari hantaman asteroid adalah radiasi termal yang berbahaya untuk manusia. Ini sempat terjadi di tahun 1908, ketika asteroid menabrak hutan di Siberia.

6. Bagaimana jika asteroid jatuh di lautan?

Itu tadi kemungkinan yang akan terjadi jika asteroid jatuh di daratan. Lalu bagaimana jika benda langit tersebut jatuh tepat di lautan? Apakah kerusakan yang ditimbulkan seburuk sebelumnya?

Jawabannya bisa iya dan bisa tidak, tergantung pada seberapa jauh letak ledakan dari permukiman manusia. Sebab saat asteroid jatuh di lautan, ia menghasilkan gelombang tinggi yang akan menimbulkan tsunami. Besar dari gelombang tersebut bergantung pada ukuran dan kecepatan asteroid.

Bukan hanya itu, asteroid yang jatuh di lautan juga berpotensi melepaskan uap air yang masif ke atmosfer. Gas tersebut sama buruknya dengan karbon dioksida dalam merusak atmosfer.

7. Untungnya, kemungkinan Bumi dihantam asteroid cukup kecil

Memang benar bahwa jumlah asteroid di sekitar Bumi tidak terhitung. Namun menurut NASA, 90 persennya berukuran kecil, yaitu dengan diameter kurang dari 1 kilometer.

Asteroid tersebut tidak akan memberikan dampak besar jika masuk ke wilayah atmosfer Bumi. Sebab mereka akan terbakar sebelum menyentuh daratan.

Walaupun begitu, Anda tidak boleh menghiraukan 10 persen lainnya. Mereka berukuran cukup besar untuk menghantam dan mendarat di Bumi. Jadi kemungkinan terjadinya bencana karena benda langit tersebut masih ada dan sulit untuk diprediksi.

8. Dengan teknologi baru, tabrakan asteroid dapat diidentifikasi atau bahkan dicegah

Kabar baik berikutnya adalah kita hidup di saat teknologi sudah berkembang sangat pesat. Berbekal hal itu dan pengetahuan akan alam semesta, para ilmuwan dan organisasi yang menekuni antariksa secara rutin memindai area sekitar Bumi. Tujuannya adalah mengidentifikasi benda langit yang berpotensi menabrak planet kita.

Saat ada asteroid yang mencurigakan, para ilmuwan akan memprediksi seberapa besar kerusakan yang akan disebabkannya, berapa waktu yang kita miliki, dan langkah mitigasi apa yang bisa dilakukan. Dengan mempersiapkan diri, kerusakan yang mungkin terjadi bisa diminimalkan.

Opsi lain untuk mencegah tabrakan asteroid bisa dilakukan dengan mengalihkan arah gerak benda langit tersebut. Berikutnya, NASA juga bisa mengirimkan pesawat tanpa awak untuk menabraknya terlebih dahulu agar tidak sampai ke Bumi. Dua opsi terakhir adalah menembakkan sinar laser atau nuklir untuk menghancurkan asteroid.

Kategori
Sains

Satelit Pertama Penjelajah Ruang Angkasa!

Satelit Pertama Penjelajah Ruang Angkasa!

Satelit Pertama Penjelajah Ruang Angkasa! – Teknologi yang diciptakan tersebut adalah alat yang mampu menjelajahi ruang angkasa bernama satelit. Uni Sovietlah sang pemula pencapaian teknologi ini.

Amerika Serikat akhirnya dapat menyusul kesuksesan yang dicapai oleh Uni Soviet. Pada 1958, tepatnya 31 Januari, satelit pertama Amerika Serikat diluncurkan ke ruang angkasa bernama Explorer.

Lantas, apa yang sebenarnya yang bisa dilakukan oleh Sputnik 1?

1. Sputnik 1 adalah satelit sederhana, tapi menjadi tonggak sejarah

Dikutip http://ratutogel.com, Satelit Sputnik 1 adalah dua belahan logam seperti “mangkok” setebal dua milimeter yang ditangkupkan. Agar rapat, digunakan baut sebanyak 36 untuk menyatukan dua belahan “mangkok” itu.

Karenanya, bentuk satelit Sputnik 1 berbentuk bola. Menurut Mike Wall dari laman Space, diameternya hanya 58 sentimeter dan beratnya hanya 83,6 kilogram.

Satelit berbentuk bola itu dilengkapi dengan antena yang nantinya digunakan untuk memancarkan sinyal radio yang dapat ditangkap di Bumi.

Ia lewat di atas langit Amerika Utara beberapa kali dalam sehari. Warga di Amerika yang memiliki perangkat khusus penangkap sinyal radio, bahkan yang amatir sekalipun, mampu mendengar sinyal yang dikirimkan oleh Sputnik.

2. Sinyal yang dikirimkan oleh Sputnik 1

Sputnik terbang dan sampai di Orbit Bumi rendah. Kecepatan satelit tersebut dalam mengorbit adalah 29 ribu kilometer per jam. Sputnik 1 membutuhkan waktu sekitar 96,2 menit untuk setiap orbit.

Di dalam satelit berbentuk bola itu, ada radio transmiter yang sinyalnya ditransmisikan pada 20.005 dan 40.002 MHz melalui antena yang dipasang di luar. Semua operator radio seluruh dunia bisa memantau sinyal yang dipancarkan oleh Sputnik.

Suara dari sinyal yang dipancarkan itu terdengar seperti, “Bip … bip … bip.” Rekaman suara satelit tersebut bisa didengarkan di laman Wikipedia yang dikemas dalam format .ogg.

Baterai perak dan seng yang ada dalam satelit Sputnik mampu membuatnya mengorbit dan mengirim sinyal selama 22 hari.

Ketika baterai pemancar habis, pada 26 Oktober 1957, operator di bumi kehilangan kontak. Pada awal Januari 1958, satelit itu jatuh ke bumi dan terbakar ketika melewati atmosfer.

3. Sputnik 1 diluncurkan dengan roket yang bernama R-7 Semyorka

Meskipun terkesan sederhana, satelit Sputnik 1 membuat sebagian masyarakat Amerika ketakutan. Mereka menganggap jika bisa menerbangkan satelit, berarti Uni Soviet juga bisa membuat sebuah roket antarbenua.

Anatoly Zak menulis pada laman Popular Mechanics bahwa Sputnik bukanlah objek utama yang difokuskan oleh pemerintah Uni Soviet, tetapi roket atau misil balistik yang digunakan untuk membawa roket tersebutlah yang paling penting.

Roket yang dibuat untuk membawa Sputnik 1 adalah R-7 Semyorka yang dirancang oleh Sergei Korolev. Roket pembawa satelit, yang juga bisa berfungsi sebagai misil balistik antarbenua tersebut, menjadi tonggak dasar perkembangan roket atau misil selanjutnya bagi Uni Soviet.

4. Suksesnya Uni Soviet menciptakan Krisis Sputnik

Masyarakat Barat memasuki masa-masa kecemasan dan ketakutan dengan keberhasilan yang dicapai oleh kecanggihan teknologi Uni Soviet.

Bahkan, suara, “Bip … bip … bip,” ketika terdengar di langit Amerika, pernah disiarkan radio NBC ke publik dengan penuh kekaguman.

Masyarakat Barat ketakutan dan cemas jika roket atau misil pembawa satelit bisa juga membawa hulu ledak nuklir yang bisa diluncurkan dari Eropa Timur ke Amerika Utara.

Presiden Amerika Serikat yang saat itu dijabat oleh Eisenhower masih memegang prinsip “kebebasan luar angkasa”, yakni gagasan bahwa luar angkasa adalah milik semua negara.

Namun di balik itu, sebenarnya Eisenhower dan belasan orang para peneliti dari intelijen, angkatan udara dan kontraktor terpercaya sedang membuat satelit mata-mata. Saking sangat rahasianya, yang mengetahui hal tersebut hanya beberapa orang saja.

Satelit mata-mata yang dikembangkan itu bernama CORONA dan tujuannya adalah untuk melakukan pengintaian dan mengirim informasi lokasi setiap roket atau misil milik Uni Soviet berada.

5. Satelit Sputnik menjadi titik awal perlombaan antariksa

Empat bulan setelah Uni Soviet sukses meluncurkan Sputnik, Amerika kemudian menyusul dengan menciptakan teknologi tandingan berupa satelit bernama Explorer. Satelit Explorer meluncur ke luar angkasa pada 31 Januari 1958.

Pada 6 Desember 1958, para ilmuwan dan teknisi Amerika Serikat melakukan pengebutan pengerjaan roket. Mulai pada saat itu, semua stasiun televisi dan radio di seluruh Amerika Serikat menyiarkan roket yang dikembangkan bernama Vanguard, yang akan membawa satelit Amerika ke antariksa.

Roket itu kemudian membawa satelit Explorer ke antariksa. Menurut laman Space, satelit Explorer milik Amerika Serikat mampu bertahan mengirim sinyal ke bumi selama empat bulan.

Explorer kehilangan kontak dengan bumi pada 23 Mei 1958 karena kehabisan baterai. Meskipun satelit tersebut kehabisan baterai, namun masih tetap bertahan di luar angkasa dan baru jatuh ke bumi pada 31 Maret 1970.

Pada 63 tahun lalu, sejak pertama kali Uni Soviet meluncurkan satelit, Space Race atau perlombaan antariksa antara Uni Soviet dan Amerika Serikat dimulai.

Negara-negara di dunia kemudian mulai mengenal dan mengembangkan misil untuk mengantarkan satelitnya masing-masing. Teknologi untuk menembus antariksa masih dianggap sebagai teknologi paling canggih dengan biaya yang sangat mahal.

Semoga saja dalam tahun-tahun mendatang, Indonesia juga bakal bisa memiliki roket sendiri untuk menerbangkan satelit buatan sendiri. Dengan begitu, Indonesia tidak perlu menumpang roket orang lain untuk mengantarkan satelitnya.

Kategori
Sains

Fakta Menarik Mengenai Matahari

Fakta Menarik Mengenai Matahari

Fakta Menarik Mengenai Matahari, – Matahari adalah benda antariksa yang sangat menarik, sekaligus menakutkan dan misterius. Di Tata Surya kita, Matahari adalah obyek paling besar.

Tapi tahukah Anda? kalau ada ada banyak hal menarik yang bisa kita pelajari dari Matahari kita. Selain berwarna kuning, ternyata Matahari juga memiliki banyak warna, loh. Penasaran kan apa saja fakta menarik dari sang Surya kita? Simak penjelasannya berikut ini!

1. Matahari itu adalah bintang

Dlansir https://christian-mommies.com, Jika selama ini Anda berpikir kalau bintang hanya dapat dilihat pada malam hari saja, eitss. Faktanya Matahari merupakan bintang juga di alam semesta ini. Mengapa Matahari disebut bintang? Bintang merupakan objek luar angkasa yang memancarkan cahayanya sendiri.

Bintang memancarkan cahayanya sendiri karena adanya proses reaksi fusi di dalam intinya, proses yang sangat ekstrem ini ‘memaksa’ empat atom hidrogen bersatu untuk menjadi satu atom helium. Jadi, Matahari adalah satu-satunya bintang di siang hari!

2. Bukan bola api, melainkan bola plasma

Pernahkah Anda memikirkan bagaimana bisa Matahari ‘terbakar’ di ruang angkasa yang di mana tentunya kita tahu kalau di sana tidak ada udara untuk api dapat menyala? Lebih baik jangan dipikirkan lagi, deh.

Matahari bukanlah bola api melainkan bola gas dalam bentuk plasma yang sangat panas, komposisinya kebanyakan terdiri dari 70 persen hidrogen dan 28 persen helium. Suhu permukaan Matahari sendiri mencapai 5.778 derajat celcius.

3. Pernah dianggap mengelilingi Bumi

Pada zaman dulu orang-orang masih percaya bahwa Matahari mengelilingi Bumi, dengan kata lain Bumi adalah pusat orbit Matahari.

Masa-masa itu dimulai ketika dua orang cerdas dari bangsa Yunani kuno bernama Plato dan Aristoteles pada abad ke-4 SM memperkenalkan pemikiran geosentrisme.

Dalam astronomi geosentris adalah suatu model yang menggambarkan kalau Bumi adalah pusat dari alam semesta. Matahari, Bulan beserta planet-planet semuanya mengelilingi Bumi dalam bentuk lingkaran.

Meskipun begitu, kita sangatlah beruntung dengan para ilmuwan-ilmuwan hebat pada masa lalu seperti Aristarchus of Samos, Johannes Kepler dan Sir Issac Newton yang telah membuktikan secara ilmiah kalau Bumi itu bukanlah pusat alam semesta.

4. Cahaya butuh 8 menit untuk sampai ke Matahari

Satu-satunya hal tercepat di alam semesta yang diketahui hingga saat ini adalah cahaya, para saintis biasanya lebih suka menyebutnya “foton” atau partikel cahaya. Saking cepatnya cahaya ini, bahkan kita bisa mengunjungi Bulan hanya dalam waktu 1.3 detik saja.

Berapa kecepatannya? Yaitu sekitar 299 792 458 m/s, bulatkan saja menjadi 300 juta m/s. Dengan jarak Bumi-Matahari 1 SA (Satuan Astronomi) atau 149.6 juta kilometer, cahaya dapat menempuh jarak sebesar itu hanya dalam waktu 8.3 detik.

Wahana antariksa nirawak tercepat buatan manusia saat ini adalah Parker Solar Probe yang memiliki kecepatan rata-rata 192.222 m/s, butuh waktu lebih dari 1 minggu untuk pergi ke Matahari dari Bumi.

5. Evolusi menjadi raksasa merah

Untuk saat ini Matahari masih menyimpan stok energi untuk reaksi fusinya setidaknya untuk 5 miliar tahun ke depan. Saat ini Matahari sedang berada pada fase stabil.

Komposisi utamanya adalah hidrogen yang suatu saat nanti Matahari akan kehabisan komposisinya. Saat itu terjadi, lapisan terluar Matahari mulai mengembang luar biasa.

Lapisan terluarnya akan membesar bahkan kemungkinan dapat mencapai orbit Bumi. Ada kemungkinan kehidupan di Bumi saat itu sudah punah akibat panas yang luar biasa. Bisa dikatakan Matahari adalah monster bagi Bumi kita di kemudian hari.

6. Butuh 230 juta tahun untuk mengelilingi galaksi

Setiap bintang yang kita lihat dengan mata telanjang di langit malam merupakan bintang-bintang yang berada pada sebuah galaksi bernama Bima Sakti atau Milky Way. Bintang-bintang ini memiliki waktu orbit dan jarak ke pusat galaksi yang berbeda-beda.

Matahari kita membutuhkan waktu 230 juta tahun untuk menyelesaikan orbitnya, sedangkan jaraknya sendiri dari pusat galaksi itu sekitar 25.000 tahun cahaya. Matahari sendiri berada pada salah satu lengan galaksi yang bernama Orion.

7. Matahari memiliki banyak warna

Alasan mengapa Matahari terlihat putih di siang bolong lalu terlihat jingga kekuningan saat terbit maupun terbenam adalah karena Matahari memancarkan seluruh spektrum pada cahaya tampak. Mulai dari panjang gelombang 400 – 700 nanometer.

Atmosfer juga berperan terhadap perubahan warna pada Matahari. Saat di pagi hari cahaya Matahari harus melalui atmosfer yang tebal untuk sampai ke mata kita, sehingga hanya spektrum cahaya yang memiliki panjang gelombang tinggi (merah – kuning) saja yang dapat sampai ke mata kita.

Jika Matahari sudah berada di atas kepala maka semua spektrum cahaya tampak dapat mengenai mata kita sekaligus, pencampuran dari merah, jingga, kuning, hijau, biru dan ungu membuat Matahari tampak berwarna putih.

8. Iklim Bumi bergantung pada matahari

Matahari adalah energi kehidupan kita di Bumi, cahayanya dimanfaatkan oleh banyak makhluk hidup di Bumi terutama tumbuh-tumbuhan.

Tidak hanya itu, perannya sangatlah penting terhadap perubahan iklim. Menurut NASA Matahari memiliki peran penting terhadap perubahan cuaca, iklim, arus laut bahkan pembentukan aurora juga dipengaruhi oleh angin Matahari.

***

Itulah beberapa fakta menarik dari sang surya kita, Bumi hanyalah budak dari Matahari yang tanpanya tentunya tidak mungkin ada kehidupan seperti sekarang ini. Matahari akan terus bersinar setidaknya untuk 5 miliar tahun ke depan.